Sepulang sekolah Adit langsung menuju rumah. Ia tidak sabar ingin mengetahui kesehatan kakaknya. Ia sungguh berharap kakaknya sekarang sudah pulih benar.
“Assalamualikum,” tidak ada yang menjawab. Adit masuk ke rumah, namun tak ada siapa-siapa di dalam. Tidak selang beberapa lama setelah itu ia mendengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah. Itu pasti ayahnya, pikirnya. Ia bergegas ke depan rumah.
Ayah mengajak Adit ke puskesmas. Ternyata ibu jatuh sakit dan sekarang sedang di rawat. Adit kembali terlihat cemas dan sedih.
Baca juga: Tiang Kejujuran – Oleh Ahmad Zul Hilmi (Padang Ekspres, 14 Januari 2018)
Sesampainya di rumah sakit, Adit setengah berlari menuju kamar rawat ibunya. Benar saja, ibunya sedang berbaring lemah di atas dipan rumah sakit dengan selang infus berada di tangannya. Adit yang baru duduk di sekolah dasar itu tidak tahu persis apa yang terjadi pada ibu dan sakit apa yang diderita ibu sekarang. Tapi sedikit penjelasan dari kakaknya membuat ia mengangguk mengerti.
“Ibu sakit karena terkejut melihat kakak jatuh sakit kemaren. Akibatnya ibu menjadi cemas berlebihan, dan tentu itu tidak baik bagi kesehatan ibu. Tadi malam kata ayah ibu juga tidak bisa tidur. Jadi, mulai dari sekarang, baik Adit maupun kakak mari selalu menjaga kesehatan, agar ibu tidak jatuh sakit seperti ini,” jelas kakak. Setelah menjelaskan itu, kakak mengajak Adit untuk pergi salat ke mushalla dan mendoakan kesehatan untuk ibu mereka tentunya. (*)