Pelajaran Piano Putri Mel

Pelajaran Piano Putri Mel.2 ilustrasi Jos - Kedaulatan Rakyat.jpg
Pelajaran Piano Putri Mel ilustrasi Jos/Kedaulatan Rakyat

Seminggu kemudian kepala mungil itu tertelungkup di atas tuts piano. Kenapa tutsnya banyak banget, sih? Harus hafal semua not balok itukah? Putri Melati bertanya sendiri. Ia mulai tidak sabar. Deretan tuts piano yang panjang, not balok yang harus dihafal. Tuhan, aku pengin bisa main piano, bisik hati sang putri. Tangannya kembali menekan bilah piano. Denting piano kembali terdengar. Awalnya tidak jelas, lama-lama mulai terbentuk irama. Mulanya satu tangan dengan kepala tertelungkup. Lama-lama tubuh sang putri kembali duduk tegap. Irama nyaman di telinga kembali terdengar. Hati Putri Melati ikut bernyanyi.

Baca juga: Tandu untuk Toby – Oleh Ferry Fansuri (Kedaulatan Rakyat, 01 April 2018)

“Wah, putri bunda sudah pintar bermain piano, nih.” Permaisuri Sekar memuji sambil membawa setumpuk buku baru. Buku-buku itu hadiah dari kerajaan tetangga. Koleksi perpustakaan istana kembali bertambah. Di belakang permaisuri, tampak Mbok Syukur membawa baki berisi segelas susu cokelat hangat dan camilan kesukaan Putri Mel. Sang putri tersenyum hambar mendengar pujian ibundanya. Melihat tumpukan buku, satu ide melintas di kepala.

“Ada buku belajar piano di sini, Nda?” tanya Putri Mel. Permaisuri Sekar mengangkat bahu sembari mengarahkan kepala ke komputer pencari di sudut perpustakaan. Sang putri segera mencari buku yang dibutuhkan. Cara bermain piano, belajar not balok, deretan tembang favorit adalah buku-buku yang berhasil ditemukannya. Mata sang bocah kembali berbinar. Ia menemukan energi baru berlatih piano.

Baca juga: Assa Si Angsa Pemalas – Oleh Ari Vidianto (Kedaulatan Rakyat, 15 April 2018)

Sehari kemudian, ada smartphone, buku pelajaran piano dan not balok berjejer di atas piano. Putri Melati memainkan jemari di atas tuts perlahan. Ia menekan bilah piano sambil berpikir, menghafal. Dering handphone memecah konsentrasi.

“Maaf aku tidak bisa ikut, San. Aku masih belajar piano. Hari Minggu kali, ya, aku bisa ikut kalian.” Sang putri menjawab. Putri Krisan, sang anak pemilik kebun stroberi menggigit jari. Kembali terdengar denting piano patah-patah. Di akhir sore, Putri Melati kembali mengulang satu hal yang disukainya. Ia menekan tuts piano bebas, tanpa harus berpikir tentang not balok dan irama.

Selesai denting piano bebas itu, tepuk tangan terdengar. Permaisuri Sekar dan Mbok Syukur terlihat di pintu perpustakaan. Segelas susu cokelat hangat dan camilan telah siap disantap. Sang permaisuri terlihat tersenyum lebar.

Baca juga: Serangan Semut Hitam – Oleh Arrum Lestari (Kedaulatan Rakyat, 01 Juli 2018)

“Bunda bangga. Mel tidak mudah menyerah kali ini.” Permaisuri memeluk Putri Mel. “Sebagai hadiah… Ayah Bunda sudah siapkan guru privat. Mel mau?”

“Ada syaratnya?” Dua mata sang putri masih berselimut rasa takut.

“Tampil di depan Ayah, Bunda, Mbok Syukur, dan penghuni istana?”

Permaisuri Sekar menowel hidung putri sulungnya sayang. “Kalau itu sih, aku berani, Nda,” jawab Putri Mel cepat. Mbok Syukur terlihat mengacungkan jempol. Senyum menghiasi sore di perpustakaan istana Bunga. ***-c

Arsip Cerpen di Indonesia