Surat dari Korban

Aku menggigil hebat setalah peristiwa itu. Selama tiga hari aku demam. Kulitku penuh garis-garis merah tergores daun jagung akibat melawan. Tetapi apalah daya saat itu tenagaku terlampu kecil dibanding lelaki bejat itu. Ia benar-benar menjelma sifat babi yang gila. Merupa hewan merusak tanaman. Telah dirusaknya tanaman yang telah diamanahkan kepadanya.

Sejak itu aku hanyalah tubuh yang penuh ketakutan. Setiap kali melihat jagung pikiranku teringat malam itu. Apalagi jika lelaki itu telah terdengar suara dan terlihat sosoknya. Ada kegamangan yang begitu dalam mengancam. Bertahun-tahun jalan suram itu kujalani. Terpasung dalam duka tekanan jiwa dan fisik.

Baca juga: Yang Lain Diceritakan Kakekku tentang Tomanurung – Cerpen Ilyas Ibrahim Husain (Fajar, 03 Juni 2018)

Hingga kusadari aku telah sakit jiwa. Telah menyimpan rasa bukan kepada perempuan lagi. Bersamaan itu pulah kebencianku kian tumbuh menajadi besar bersama pertumbuhanku. Setelah usia remaja kutapaki, aku telah terlepas dari cengkraman dari tangan terlaknat itu. Namun jiwaku telanjur pecah berkeping-keping. Tidak bisa lagi keluar dari bui hitam. Aku tidak kuasa meredam dendam kepada orang yang telah memasukkanku dalam penjara ini.

Kini yang paling membebani pikiranku yaitu perkataan lelaki bejat tadi siang. Kulihat lelaki itu tampak senang dengan kabar yang disampaikannya itu. Tetapi tidak untuk aku. Ibu akan pulang. Beban apa lagi yang mengalahkan derita ibu selama ini setelah mengetahui tentangku yang sebenarnya. Kasihan ibu. Cukuplah beban ini kupangku sendiri.

Baca juga: Belut yang Ingin Jadi Raja – Cerpen Ardani H.K (Fajar, 01 Juli 2018)

Semalam-malam kuobati lukaku dengan caraku sendiri. Aku mengubur diri dalam bilik pengap. Ini lebih baik daripada bertemu dengan lelaki itu. Kini aku lupa bagaimana cara memulai komunikasi dengannya. Aku tidak pernah lagi berbicara kecuali ia menanyaiku.

Pagi ini seharusnya ibu sangat bahagia bisa bertemu denganku. Ternyata peristiwa yang menimpa suaminya tadi malam membuatnya terpukul. Kebahagian awal perjumpaanku setelah memelukku porak-poranda begitu mengetahui suaminya mati mengenaskan tadi malam.

Arsip Cerpen di Indonesia