Benih yang Kita Tebar di Malam Itu, Kini Tumbuh Menjadi Sebatang Ilalang

Cerpen Faris Al Faisal (Radar Cirebon, 14 Oktober 2018)

Ilalang ilustrasi Istimewa
Ilalang ilustrasi Istimewa 

APA kau tak merasa, jika pada malam yang gersang dan kita menanti hujan turun di bantaran sungai Cimanuk telah menjadi interval malam yang melatar belakangi cerita pendek ini? Atau jika kau tak paham maksudku, maka diamlah, duduk di sini menemaniku sampai aku selesaikan cerita ini, ucapku padamu yang kemudian kau menurutiku—duduk berdampingan denganku di antara rumput dan daun-daun perdu dengan batang dan akar yang membelukar—tanpa bergeser se-inchi pun. Lalu dengan sikap mesra seperti yang biasa kau perlakukan padaku, kau mencoba memelukku. Namun, untuk kali ini aku menolaknya. Ya, menolaknya. Kulihat tanganmu yang kekar sebagaimana tangan para tukang pengrajin perahu, tampak menggenggam kuat-kuat pada sebuah batang ilalang yang baru tumbuh sebulan yang lalu.

“Jangan kau cabut ilalang itu!” seruku mencegah kekesalanmu.

“Kenapa?” tanyamu mencari tahu.

“Sebatang ilalang inilah yang menjadi inti percakapan kita malam ini,” ucapku sambil mendekat, mengelus, dan membusai tangkainya.

“Apa menariknya ilalang? Ia hanya rumput yang tumbuh dengan sendirinya tanpa ditanam,” kilahmu tak tertarik.

Kali ini kutatap wajahmu dengan tajam, setajam batang ilalang. Barangkali ini pun adalah kali pertama aku menantang matamu. Kukatakan padamu, “Inilah benih yang kita tebar di malam itu, kini tumbuh menjadi sebatang ilalang.”

“Apa katamu?” Kau terjajar mundur dalam dudukmu.

 

/1//

BANTARAN telah sepi. Padahal beberapa jam yang lalu, sore tadi, sungai masih disibukkan oleh para pemilik perahu yang menambatkan badannya di akar atau batang bakau yang tumbuh di sepanjang muara Cimanuk. Keadaan inilah sebenarnya yang kutunggu untuk menunggu kedatangan Tasuka —lelaki Nuh, yang mengolah kayu, mengukir batangan, dan merakit papan-papan menjadi perahu yang siap diarungkan ke samudera saat air sungai naik— yang tentu juga sedang berjalan kemari dengan berkerodong sarung. Burung malam yang sesekali melintas, jeli menatap ke bawah, mengintai mangsa sambil mengeluarkan suara berkoak yang membuat tikus-tikus pantai masuk ke dalam lobang-lobang sampai jauh terdalam.

Sudah belasan menit aku di sini. Duduk di bantaran sungai Cimanuk dengan menghadapkan wajahku ke permukaannya yang diterangi cahaya rembulan. Pada purnama yang telah lewat, Tasuka menjanjikan padaku untuk mengambil janji bertemu saat bulan benderang lagi. Seandainya bukan karena lelaki itu, aku tak akan berani keluar rumah dengan risiko menghadapi pertanyaan-pertanyaan bapakku. Bapakku adalah juragan nelayan yang terbiasa berbicara keras bahkan kasar. Ia adalah pemilik perahu-perahu kursin yang saban bulan purnama didatangi tekong-tekong untuk melaporkan hasil selama melaut. Maka kesempatan itulah yang rupanya diketahui dan dimanfaatkan dengan benar oleh Tasuka.

Aih, kukira kau tak datang, Uning?” Pada saat yang bersamaan, sebuah lengan kekar memeluk pinggangku.

Mbuh ah, hampir semutan kakiku, Kang. Kucubit pinggangnya. Ia meringis, tapi kutahu tidak ada yang membahagiakan dari penantian kecuali saat-saat jumpa itu datang.

“Iya tah, maaf tadi aku dipanggil Bapakmu.”

“Bapak?”

“Iya, disuruh beli rokok dan minuman untuk para tamunya di kios. Aku pikir, Uning sudah tahu?”

“Tidak, Kang. Tapi syukurlah, aku hanya takut Bapak mengetahui hubungan kita, Kang.”

“Sudahlah, kita nikmati saja malam ini, Uning. Apa kamu tidak rindu?”

Belum sempat aku menjawab, bibirku telah dilumatnya dengan penuh nafsu. Dan entah bagaimana menjelaskannya, bulan yang merona di atas langit tiba-tiba absurd disungut awan seperti aku yang kemudian terenggut dalam gemuruh ombak asmara di lautan Jawa.

 

/2//

AKU tahu, di tempat Tasuka menabur benihnya semalam, tak kudapati ilalang. Tetapi pada pagi harinya, saat aku disuruh bapak mengantarkan makanan dan minuman untuk para awak kapalnya, tak sengaja kutengok dan kutemukan sebatang ilalang telah tumbuh. Sebenarnya, aku tak mempedulikannya. Namun, saat kuteruskan langkahku, terdengar suara bayi menangis. Kuurungkan langkahku, mencari-cari darimana asal tangisan itu. Di bantaran, di sungai, di perahu-perahu, tak jua kutemukan keberadaannya. Beberapa orang yang lewat memperhatikanku menanyakan perihal apa yang sedang kucari. Kukatakan pada mereka, apakah mendengar juga tangisan bayi? Mereka menggeleng. Ah, barangkali telingaku salah mendengar. Aku bergegas ingin meneruskan pekerjaanku.

“Aku di sini, Bu!”

Aku terperanjat. Rasanya jantungku mendadak berhenti berdegub. Suara itu berasal dari sebatang ilalang itu. Ya, sebatang ilalang.

“Aku anakmu, Bu!”

Kudekati ia dengan perasaan yang tak menentu. Benarkah apa yang baru saja kudengar? Kutepuk beberapa kali pipiku. Rasanya sakit, karena ini sungguhan. Aku terjatuh dengan lutut menyentuh tanah. Kusentuh batangnya yang pajang sampai ke permukaan daunnya dan malai bunganya yang berambut putih halus. Tak habis mengerti dengan apa yang tengah kusaksikan.

“Bagaimana bisa kau menyebutku ibu? Kau adalah ilalang. Tentu bapak dan ibumu pun adalah ilalang.”

“Bukankah semalam telah ada orang yang menebarkan benihnya secara sembarangan di bantaran ini? aku telah lahir dari percintaan mereka.”

“Tetapi mengapa kau tidak tumbuh dalam rahimku dan yang lahir adalah sebatang ilalang?”

“Kalianlah yang menyebabkan aku terlahir sebagai ilalang. Benih yang kalian tebarkan jatuh di rahim tanah dan kemudian aku tumbuh.”

 

Arsip Cerpen di Indonesia