Benih yang Kita Tebar di Malam Itu, Kini Tumbuh Menjadi Sebatang Ilalang

APA kau tak merasa, jika pada malam yang gersang dan kita menanti hujan turun di bantaran sungai Cimanuk telah menjadi interval malam yang melatar belakangi cerita pendek ini? Atau jika kau tak paham maksudku, maka diamlah, duduk di sini menemaniku sampai aku selesaikan cerita ini, ucapku padamu yang kemudian kau menurutiku—duduk berdampingan denganku di antara rumput dan daun-daun perdu dengan batang dan akar yang membelukar—tanpa bergeser se-inchi pun. Lalu dengan sikap mesra seperti yang biasa kau perlakukan padaku, kau mencoba memelukku. Namun, untuk kali ini aku menolaknya. Ya, menolaknya. Kulihat tanganmu yang kekar sebagaimana tangan para tukang pengrajin perahu, tampak menggenggam kuat-kuat pada sebuah batang ilalang yang baru tumbuh sebulan yang lalu.

“Jangan kau cabut ilalang itu!” seruku mencegah kekesalanmu.

“Kenapa?” tanyamu mencari tahu.

“Sebatang ilalang inilah yang menjadi inti percakapan kita malam ini,” ucapku sambil mendekat, mengelus, dan membusai tangkainya.

“Apa menariknya ilalang? Ia hanya rumput yang tumbuh dengan sendirinya tanpa ditanam,” kilahmu tak tertarik.

Kali ini kutatap wajahmu dengan tajam, setajam batang ilalang. Barangkali ini pun adalah kali pertama aku menantang matamu. Kukatakan padamu, “Inilah benih yang kita tebar di malam itu, kini tumbuh menjadi sebatang ilalang.”

“Apa katamu?” Kau terjajar mundur dalam dudukmu.

/1//

BANTARAN telah sepi. Padahal beberapa jam yang lalu, sore tadi, sungai masih disibukkan oleh para pemilik perahu yang menambatkan badannya di akar atau batang bakau yang tumbuh di sepanjang muara Cimanuk. Keadaan inilah sebenarnya yang kutunggu untuk menunggu kedatangan Tasuka —lelaki Nuh, yang mengolah kayu, mengukir batangan, dan merakit papan-papan menjadi perahu yang siap diarungkan ke samudera saat air sungai naik— yang tentu juga sedang berjalan kemari dengan berkerodong sarung. Burung malam yang sesekali melintas, jeli menatap ke bawah, mengintai mangsa sambil mengeluarkan suara berkoak yang membuat tikus-tikus pantai masuk ke dalam lobang-lobang sampai jauh terdalam.

Sudah belasan menit aku di sini. Duduk di bantaran sungai Cimanuk dengan menghadapkan wajahku ke permukaannya yang diterangi cahaya rembulan. Pada purnama yang telah lewat, Tasuka menjanjikan padaku untuk mengambil janji bertemu saat bulan benderang lagi. Seandainya bukan karena lelaki itu, aku tak akan berani keluar rumah dengan risiko menghadapi pertanyaan-pertanyaan bapakku. Bapakku adalah juragan nelayan yang terbiasa berbicara keras bahkan kasar. Ia adalah pemilik perahu-perahu kursin yang saban bulan purnama didatangi tekong-tekong untuk melaporkan hasil selama melaut. Maka kesempatan itulah yang rupanya diketahui dan dimanfaatkan dengan benar oleh Tasuka.

Aih, kukira kau tak datang, Uning?” Pada saat yang bersamaan, sebuah lengan kekar memeluk pinggangku.

Mbuh ah, hampir semutan kakiku, Kang. Kucubit pinggangnya. Ia meringis, tapi kutahu tidak ada yang membahagiakan dari penantian kecuali saat-saat jumpa itu datang.

“Iya tah, maaf tadi aku dipanggil Bapakmu.”

“Bapak?”

“Iya, disuruh beli rokok dan minuman untuk para tamunya di kios. Aku pikir, Uning sudah tahu?”

“Tidak, Kang. Tapi syukurlah, aku hanya takut Bapak mengetahui hubungan kita, Kang.”

“Sudahlah, kita nikmati saja malam ini, Uning. Apa kamu tidak rindu?”

Belum sempat aku menjawab, bibirku telah dilumatnya dengan penuh nafsu. Dan entah bagaimana menjelaskannya, bulan yang merona di atas langit tiba-tiba absurd disungut awan seperti aku yang kemudian terenggut dalam gemuruh ombak asmara di lautan Jawa.

 /2//

AKU tahu, di tempat Tasuka menabur benihnya semalam, tak kudapati ilalang. Tetapi pada pagi harinya, saat aku disuruh bapak mengantarkan makanan dan minuman untuk para awak kapalnya, tak sengaja kutengok dan kutemukan sebatang ilalang telah tumbuh. Sebenarnya, aku tak mempedulikannya. Namun, saat kuteruskan langkahku, terdengar suara bayi menangis. Kuurungkan langkahku, mencari-cari darimana asal tangisan itu. Di bantaran, di sungai, di perahu-perahu, tak jua kutemukan keberadaannya. Beberapa orang yang lewat memperhatikanku menanyakan perihal apa yang sedang kucari. Kukatakan pada mereka, apakah mendengar juga tangisan bayi? Mereka menggeleng. Ah, barangkali telingaku salah mendengar. Aku bergegas ingin meneruskan pekerjaanku.

“Aku di sini, Bu!”

Aku terperanjat. Rasanya jantungku mendadak berhenti berdegub. Suara itu berasal dari sebatang ilalang itu. Ya, sebatang ilalang.

“Aku anakmu, Bu!”

Kudekati ia dengan perasaan yang tak menentu. Benarkah apa yang baru saja kudengar? Kutepuk beberapa kali pipiku. Rasanya sakit, karena ini sungguhan. Aku terjatuh dengan lutut menyentuh tanah. Kusentuh batangnya yang pajang sampai ke permukaan daunnya dan malai bunganya yang berambut putih halus. Tak habis mengerti dengan apa yang tengah kusaksikan.

“Bagaimana bisa kau menyebutku ibu? Kau adalah ilalang. Tentu bapak dan ibumu pun adalah ilalang.”

“Bukankah semalam telah ada orang yang menebarkan benihnya secara sembarangan di bantaran ini? aku telah lahir dari percintaan mereka.”

“Tetapi mengapa kau tidak tumbuh dalam rahimku dan yang lahir adalah sebatang ilalang?”

“Kalianlah yang menyebabkan aku terlahir sebagai ilalang. Benih yang kalian tebarkan jatuh di rahim tanah dan kemudian aku tumbuh.”

Oh, Tuhan, bagaimana ini? benarkah apa yang sedang terjadi ini, batinku. Kembali kubusai malai bunganya. Kukira ia seorang perempuan yang cantik. Helai daun yang berbentuk garis barangkali adalah pita yang mengikat rambut panjang di kepalanya. Dan bunga malainya indah sekali dengan bulir rambut berwarna putih kapas.

“Siapa namamu?” tanyaku. Dan tentu saja akan tampak kebodohanku karena seharusnya bapak dan ibunyalah yang menyematkan nama untuknya.

“Panggil saja aku Lalang, Bu.”

“Lalang?”

“Iya Bu, Lalang.”

“Dan siapakah nama bapak dan ibuku?”

“Bapakmu Tasuka dan ibumu Uning.”

Aku seperti berada dalam mimpi atau dalam tak lagi dapat menyangkal kata-katanya. Ingin segera kuberitahukan semua ini pada Tasuka, akan tetapi aku tahu ia baru saja ikut melaut dan akan kembali lagi pada purnama yang akan datang.

/3//

SABAN hari, aku selalu mengunjungi Lalang di bantaran Cimanuk pada pagi dan petang. Semakin bertambahnya hari, batangnya kian memanjang sebagaimana umumnya ilalang. Dan berita aku selalu datang ke tempat tumbuhnya ilalang menimbulkan tanya pada orang-orang yang menyaksinya. Bahkan, bapakku mulai memperkarakannya.

Jeh, orang-orang banyak membicarakanmu yang mulai aneh melihatmu bercakap-cakap dengan ilalang. Apa kamu sudah gila?”

Aku tak berani mengadu mulut dengan bapak, bahkan menatap matanya pun aku tak berani.

Kuh, dasar blengus. Sore nanti kalau tak terlambat Tasuka kembali dari laut. Bapak akan suruh dia membabatnya supaya kau tak lagi datang ke bantaran.”

Aku terperanjat dan cemas. Bapak tidak pernah main-main, ia pasti akan melakukannya. Beliau tak pernah tahu jika ilalang itu adalah cucunya. Dan seandainya Tasuka melakukannya, ia pun telah membunuh anaknya. Di dalam kamar aku terisak, berharap Tasuka segera pulang dan aku akan menceritakan tentang Lalang padanya.

***

LALANG telah mendengar percakapanku dan Tasuka. Ia belum bersuara sedikitpun. Tetapi embun-embun bertimbulan di permukaan daunnya. Aku yakin, ia sedang menangis. Sementara lelaki yang berada di sampingku masih juga diam. Ia tertegun setelah mendengarkan semuanya. Matanya berkaca-kaca seperti riak sungai Cimanuk diterpa cahaya bulan yang pernah menyaksi keduanya menebar benih sebulan yang lalu.

“Apakah aku harus membunuh darah dagingku sendiri, Uning?”

Aku terdiam. Tak mampu untuk menjawab pertanyaan Tasuka. Perlahan air mataku mulai meleleh di pipiku. Dan aku tak dapat menyembunyikan isakku. Kesedihan mengambang di bantaran, perahu-perahu kursin yang ditambatkan seakan hilir mudik di kepalaku.

“Aku membawa pesan bapakmu untuk membabat ilalang ini, yang tentu saja adalah cucunya.”

Kulihat lelaki itu mulai meraba-raba ilalang yang hendak dicabutnya tadi.

“Benarkah kau adalah anakku?”

Lalang tak menjawabnya. Embun di permukaan daun itu kini menetes terlerai.

“Lalang jangan sedih, ya ….” ucapku menghiburnya.

“Tidak Bu, Lalang memang sudah menduganya, hidup akan menjadi seonggok ilalang yang menjadi gulma.”

Aku luruh mendengarnya. Serasa tulang-tulangku dilolosi sehingga untuk bicara pun mesti mengumpulkan kekuatan itu untuk beberapa saat.

“Bapak akan memindahkanmu, Lalang.”

“Tidak Pak, Lalang akan mati jika berpindah tempat.”

“Lantas?”

“Berterus teranglah pada Kakek, bahwa kalian telah menebarkan benih itu hingga tumbuh Lalang di sini. Bertanggung jawab memang hal yang berat, tetapi itu lebih menenteramkan daripada memelihara kebohongan yang terus menerus.”

/4//

TAK ada lagi purnama di bantaran. Aku dan Tasuka telah pergi berlayar entah dengan tujuan kemana. Yang penting pergi. Di tanganku, Lalang terkulai dengan bekas tebasan yang entah siap melakukannya. Ia sudah tak bernafas. Tasuka duduk di buritan mengarahkan perahu ke sebuah pulau kecil di perairan utara semenanjung Indramayu. Kurasa itu adalah pulau Biawak yang banyak disebut orang-orang tempat melarikan diri dari keramaian.

“Barangkali inilah yang harus kita terima dari kesalahan kita dulu. Hidup menanggung sepi di tempat yang hanya dihuni kawanan biawak.”

Di bawah pohon bakau yang centang perenang akar nafasnya, Lalang telah disemayamkan dengan tangisku dan Tasuka yang reda-reda. ***

Indramayu, 2018

Faris Al Faisal lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Forum Masyarakat Sastra Indramayu (Formasi) dan Dewan Kesenian Indramayu (DKI). Menulis fiksi dan non fiksi. Karya fiksinya adalah novella Bunga Narsis Mazaya Publishing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017), Novelet Bingkai Perjalanan LovRinz Publishing (2018), dan Antologi Puisi Dari Lubuk Cimanuk Ke Muara Kerinduan Ke Laut Impian Rumah Pustaka (2018). Sedangkan karya non fiksinya yaitu Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia Penerbit Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017).

Puisi, puima, cerma, cernak, cerpen dan resensinya tersiar berbagai media cetak dan online seperti Kompas, Tempo, Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Padang Ekspres, Haluan, Rakyat Sumbar, Radar Cirebon, Radar Surabaya, Radar Sulbar, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Merapi, Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Bali Post, Bangka Pos, Magelang Ekspres, Palembang Ekspres, Malang Post, Solopos, Medan Pos, Suara NTB, Joglosemar, Tribun Jabar, Tribun Bali, Bhirawa, Koran Pantura, Kabar Madura, Riau Pos, Tanjungpinang Pos, Fajar Makasar, Serambi Indonesia, Koran Dinamikanews, Media Cakra Bangsa, Majalah Simalaba, Majalah Hadila, Majalah Kartini, Majalah Suara Muhammadiyah, Tabloid Nova, IDN Times, Sportourism.id, Puan.co, MediaJatim.Com, Nyontong.Com, Takanta.id, GaleriBukuJakarta.com, SastraPurnama.Com, Kawaca.com, Simalaba.Net, Sanglah Institute, Qureta.Com, SerikatNews.Com, Lantes.Web.Id, NusantaraNews.co, SuaraPemredKalbar.Com, FlorstSastra.Com, Litera.co.id, HariPuisi.Info, Jurnal Asia, dan Utusan Borneo Malaysia. Email ffarisalffaisal@gmail.com, Facebook www.facebook.com/faris.alfaisal.3, Twitter @lfaisal_faris,  IG @ffarisalffaisal, Line ffarisalffaisal  dan SMS/WA 085 224 107 934.

Arsip Cerpen di Indonesia