Dalam hati, aku kembali mentertawakan diri sendiri; betapa semangatnya aku untuk segera tiba di dermaga kecil Selat Bosphorus ya. Tepatnya, betapa semangatnya aku untuk segera tiba, lalu duduk, menyimak hamparan laut yang tak begitu bergelombang, dan bergumam dalam hati, Kutunggu kamu di Selat Bosphorus. Angin dingin? Ah, ia telah hengkang ditaklukkan oleh semangatku. Lebih tepatnya lagi, semangatku untuk segera melihat mata Aysila yang kecokelatan.
Tepat pada pertigaan yang di atasnya melintang rel yang sedari tadi berlalu-lalang trem yang tak begitu panjang-panjang, aku menyeberang. Lalu berbelok kanan, dan kini, kau tahu, terlentanglah di depanku hamparan air laut yang kebiruan. Inilah Selat Bosphorus! Kutebarkan mata ke segala arah, ke sekujur selat yang tak begitu luas ini; di sisi utara, pastilah itu Laut Hitam dan di sisi sebaliknya, selatan, pastilah itu Laut Marmara. Dua buah jembatan tampak melintang membelah selat ini dalam jarak yang cukup jauh; jembatan yang menghubungkan tanah Asia dan Eropa. Beberapa ekor camar dan elang laut beterbangan di atasnya, diselilingi tembang-tembangnya yang khas.
Kepada seorang gadis yang kulihat duduk seorang diri, kutanyakan di mana gerangan Boozcada Cafe berada. Ia tersenyum kecil, lalu menengadahkan lehernya ke atas, ke lantai dua.
Kafe itu tentu masih tutup jam segini. Di sini, semua baru buka pukul 09.00 pagi, katanya.
Kuundurkan kaki beberapa meter dari bawah atap lantai dua ini, lalu kulongokkan kepala ke atas. Ah, sialan! Pantas saja aku tak menemukannya sedari tadi, rupanya tulisan Boozcada Cafe hanya terselip kecil begitu.
“Kalau kamu mencari smoking area, geserlah ke selatan beberapa meter. Ya, di dekat tong sampah stainless itu.”
“Ah, tidak, tidak,” kataku.
Ia tersenyum dengan mata menyorot. Ya, mata cokelat seperti yang dimiliki Aysila. “Maksudku, kamu tidak boleh merokok di sini.”
Buru-buru kujejalkan rokokku ke lantai.
“Dan, jika kamu membutuhkan tong sampah untuk membuang puntung rokok, itu tempatnya,” katanya lagi.