Kutunggu Kamu di Selat Bosphorus

Kupungut dengan cepat puntung yang lindas di kakiku, lalu melangkah ke tong stainless yang ditunjukkanya. Kulihat gadis itu tersenyum agak terpingkal.

Kulirik lagi arlojiku, pukul 09.30. Ah, sabar, Aysila pasti datang, tak lama lagi, gumamku, meski di hatiku sendiri itu terasa seperti sebuah hiburan untuk menyenangkan diri belaka.

Jangan sampai tak datang, Aysila. Ingat, janji adalah utang, dan utang harus dibayar. Aku lalu mesem sendiri. Tidak, Aysila, buatmu tak ada utang apa pun padaku. Kalaupun kau tak datang pagi ini, dan membuatku menunggu berjam-jam nyaris beku begini, itu takkan pernah kejadikan persoalan, sebab kutahu perasaan suka tak pernah kuasa untuk tidak memaafkan apa pun kekurangajaran yang telah diterjangkan padanya.

Kutunggu kamu di Selat Bosphorus, Aysila.

Arsip Cerpen di Indonesia