Rumah Pemusnah Kenangan

“Permisi… boleh aku bertanya?” sapaku pada seorang gadis seusiaku. Gadis berwajah muram itu duduk di sebelah kiriku. Sepasang matanya tampak bengkak dan memerah. Mungkin gadis itu sedang bersedih.

Gadis itu menolehku padaku. “Ya?”

“Apakah kau naik kereta ini karena menerima undangan untuk memusnahkan kenangan?”

Gadis itu tampak heran. Keheranannya membuatku merasa seperti seseorang yang baru saja mengajukan pertanyaan bodoh.

Baca juga: Yang Retak di Malam Ketujuh – Cerpen Muhtadi Chasbien (Haluan, 15-16 September 2018)

“Bukan hanya aku, tapi semua orang dalam kereta ini,” jawabnya datar.

Sudah kepalang tanggung. Kuputuskan untuk bertanya lebih lanjut. “Maaf, boleh aku bertanya lagi? Kau tahu maksud dari memusnahkan kenangan?”

Gadis itu memandangku kesal. “Kau memutuskan naik kereta ini karena sudah mengetahuinya, kan?” Ia lalu membisu dan membuang pandangan ke luar jendela.

Aku terdiam. Benarkah apa yang dikatakan oleh gadis itu? Aku memikirkan hal itu selama perjalanan. Kereta api meliuk-liuk di antara bukit-bukit tandus dan hutan yang meranggas. Orang-orang dalam gerbong tak banyak bicara. Semuanya hanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga akhirnya, kereta berhenti di sebuah stasiun kecil.

Baca juga: Tembok Kamar – Cerpen Linda A. Lestari (Haluan, 30 September 2018)

“Kita sudah tiba di tujuan. Semua penumpang diharapkan turun. Kita akan berjalan kaki menuju rumah pemusnah kenangan.” Suara pemberitahuan terdengar lewat pengeras suara.

Aku turun bersama penumpanglain dan berdesakan menuju antrean di depan stasiun. Seorang pengarah memberi aba-aba agar kami berbaris teratur. Kami lalu berjalan kaki menuju tujuan kami, rumah pemusnah kenangan.

Rumah yang kami tuju ternyata berada tak jauh dari stasiun. Sebuah plang kayu bertuliskan “Rumah Pemusnah Kenangan” terpasang di depan rumah berhalaman luas itu. Setiap orang dipanggil memasuki rumah itu secara bergiliran. Aku menunggu giliran dengan perasaan cemas.

Arsip Cerpen di Indonesia