“Minara.” Namaku akhirnya dipanggil. Aku melangkah masuk dengan hati berdebar. Ruangan yang nyaris kosong menyambutku. Hanya ada meja hitam dan sebuah kursi kosong di depannya, serta tiga lelaki dengan ekspresi datar yang duduk berbaris seperti hakim pada persidangan di belakang meja itu.
“Duduklah.” Salah seorang dari mereka menyilakanku duduk kursi kosong. Aku duduk berhadap-hadapan dengan mereka.
“Katakan pada kami, kenangan apa yang ingin kau musnahkan selamanya?” Salah seorang dari tiga lelaki itu bertanya padaku.
Baca juga: Pete Si Kerdil – Cerpen Carol Moore (Haluan, 07 Oktober 2018)
Aku mengenang ibu, ayah, dan saat-saat kehilangan dunia laut. Ketika aku menatap mata lelaki yang bertanya padaku, kutemukan jawaban yang sesungguhnya. “Segalanya. Aku ingin menghapus segala kenangan tanpa sisa.”
Mereka tampak terkejut mendengar jawabanku. “Segalanya?” Lelaki yang duduk di tengah memastikan jawabanku.
“Ya.” Sekarang aku yakin bahwa aku harus memusnahkan segalanya agar terbebas dari kenangan yang menyesakkan.
“Baiklah, ulurkan tanganmu,” suruh lelaki yang pertama menanyaiku. Kuulurkan tangan kananku. Ketika tanganku menyentuh telapak tangan lelaki itu, kurasakan ketenangan dalam diriku.
“Pejamkan matamu, aku akan menghapus kenangan yang kau miliki.”
Aku memejamkan mata. Satu per satu kenangan masa lalu melintas seperti pemutaran sebuah film. Lebam di wajah ibu, sabun mandi berwarna biru, orang-orang yang menangisi kepergian ibu, wajah ayah, semuanya terasa nyata. Lalu aku melihat dunia laut yang kurindukan. Hamparan pasir, karang, debur ombak, dan peri laut yang melambaikan tangan padaku dari kejauhan. Kali ini, sosok peri laut terlihat lebih dekat. Aku dapat melihat jelas senyum di wajahnya. Aku terkejut dan berteriak. Berhenti! Terlambat. Peri laut lenyap dari kenanganku. Peri laut itu ternyata ibuku.
Tepian DanauMu, 6 Oktober 2018
Fitri Manalu. Penulis kumcer Sebut Aku Iblis (2015) dan novel Minaudiere (2017). Cerpennya termuat di sejumlah antologi bersama, media online, dan media cetak. Bergiat di komunitas Rumah Pena Inspirasi Sahabat. Kini tinggal di Medan.