Usia Usai

Usia Usai karena memiliki bapak gila yang menamai anaknya sendiri dengan nama aneh. Semenjak itulah genderang perang dimulai. Usia Usai boleh menang tampang. Namun soal uang Ricard jawaranya. Pemilik peternakan ayam dan usaha penggilingan padi, juragan tanah, juragan sawah. Putra orang berada. Orang terkaya se-kabupaten. Meski Ricard bertabiat layaknya iblis, kalau ada uang siapa mau tantang? Tak ingin melihat musuh bebuyutan naik kepelaminan bersanding dengan gadis pujaan hati, maka terbitlah keangkaramurkaan. Keberanian yang disulut dendam susah buat dipadamkan. Dua hari menjelang pernikahan, Ricard ditemukan bersimbah darah dibelakang rumahnya.

Baca juga: Perkawinan Akhirat – Cerpen Mukti Sutarman Espe (Radar Banyuwangi, 23 September 2018)

Dosa terindah adalah menumbangkan musuhmu, meski kau juga turut tumbang bersamanya. Digelandang Usia Usai ke penjara. Untuk menanggung dosa dan perbuatannya. Dalam kesempatanku menjenguknya di penjara waktu itu, ia merasa berdosa namun tak menyesal. Kedatanganku untuk mengabarkan bahwa perempuan pujaannya hendak menikah dengan orang desa seberang. Usia Usai terduduk beku. Setitik air mata menetes sambil berkata, “ia berhak mendapat yang lebih baik.” Lantas berdiri dan kembali ke dalam dinginnya jeruji penjara.

Usia Usai bakal menjalani hukuman seumur hidup di dalam penjara. Pernyataannya di muka sidang bahwa ia sama sekali tak menyesal dan tak ingin ada pembelaan semakin memantapkan vonis seumur hidup. Aku kenal betul tabiat Usia Usai semenjak kecil. Ia tidak seburuk yang mereka sangkakan. Sewaktu sekolah, saat kami sudah jamak melakukan dosa berjamaah yakni mencontek, Usia Usai tak pernah melakukannya. Ia semacam orang suci yang pendendam. Ia bukan pribadi yang temperamen, bahkan menurutku ia sangat menyenangkan untuk diajak bercanda.

Baca juga: Api Kenangan – Cerpen Latif Fianto (Radar Banyuwangi, 02 September 2018)

Ibunya yang menua seorang diri itu dititipkannya padaku. Di dalam penjara, Usia Usai adalah sipirnya sipir. Pamornya sebagai pembunuh berdarah dingin itu sudah menjelma legenda. Dari balik jeruji besi itulah bisnis Usia Usai dimulai. Awalnya karena menolong seorang napi kaya raya dari gangguan napi lainnya. Setelah keluar dari penjara, napi yang ia tolong memberikan beberapa bidang sawah yang luas. Aku dipercaya untuk menggarapnya. Kukelola sawah itu tahun demi tahun. Menghidupiku, keluargaku, dan ibunya Usia Usai.

Setiap yang memberi terang, layak mendapat tempat untuk selalu kita kenang. Entah kenapa aku selalu memikirkan Usia Usai. Mungkin juga karena ia terlalu berjasa bagiku. Sedang nasibnya sungguh memilukan. Menunggu ajal dari balik tembok penjara, semenjak muda. Usianya masih namun rasanya hidupnya usai. Usia Usai, jangan! Jangan dulu usai. Di dalam bui ia masih bisa bertobat dan ibadah sepuas hati.

 

Klaten, menjelang tiga dasawarsa usia.

Kunglhe Fhreya, nama pena dari Achmad Taufik Budi Kusumah SPd. Kelahiran Klaten, 28 Agustus 1987. Berprofesi sebagai guru SDS Pesona Astra, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Menulis puisi, cerpen, esai, cerita anak, dan novel. Buku kumpulan puisinya berjudul “Hati” dan “Cinta & Konyol” diterbitkan cetak maupun digital di www.bitread.co.id. Beberapa cerpennya tersiar di beberapa surat kabar.

Arsip Cerpen di Indonesia