Balung Kere

Bahkan, empat tahun kemudian, dan berlangsung sampai kini, diam-diam menyelenggarakan sebuah acara pendhak taun hari kematian dari dia yang nyaris dikuburkan secara jahiliah—tanpa tata cara Islami. Meski yang serius mendanai semua lelaku adat Jawa itu adalah keluarga serta turunan dari si yang melakukan pembunuhan serta penguburan rahasia. Semacam permintaan maaf secara berkomplot dari si orang yang merasa bersalah serta si yang di saat itu teramat tak berdaya—yang gelisah menunggu tibanya masa untuk mengungkapkan kebenaran.

Kenapa? Apa yang membuat mereka kalah?

***

Baca juga: Utang Darah Manusia Harimau – Cerpen Guntur Alam (Jawa Pos, 29 Juli 2018)

KATA beberapa orang, di bawah pohon kiara itu sesungguhnya tidak ada mayat yang dikuburkan secara rahasia, setelah ia dibunuh dengan darah dingin. Kata Gojek, “Awalnya memang diperintahkan dikuburkan di sana, lantas diam-diam dipindahkan…” Orang-orang kampung ternganga. Antara percaya dan tak percaya. Meski mereka sepakat: Pembunuhan itu terjadi cuma karena orang itu berani datang untuk menuntut pertanggungjawaban Gegrasana—yang baru dilamarkan Maksaiti. Anak Sukrojendra, raden tuan tanah yang menguasai hamparan sawah dan ladang. Dari jembatan Balung Kere itu: ke utara sampai Lawung Tuwak, ke selatan sampai Pilang Bango, ke barat sampai Wana Lambe, dan ke timur sampai Tegal Lingsang. Meskipun tak seluruhnya, bisa dibilang kekayaannya mencakup tujuh kampung di dua desa.

Baca juga: SOREANG (Atawa: Season of The Witch Cerpen Beni Setia (Koran Tempo, 02-03 Juni 2018)*) 

Si yang nyakrawati di kampung Tinggrantul, satu setengah kilometer dari posisi jembatan Balung Kere—lebih tepatnya jembatan mobil, bukan jembatan kereta—, kata beberapa orang, siang itu sengaja bertamu ke rumah Sukrojendra dengan naik dokar—diantar Krajet, tukang dokar dari kampung Pring Purwa, yang di setiap hari biasa mangkal di depan Pasar Awu-Awu Lor. Krajet telah dibayar borongan dan ia sebenarnya: disuruh menunggu sebelum kembali ke Pasar Awu-Awu Lor, tapi (kemudian) disuruh pergi sambil tutup mulut. Dan menurut pengakuannya—setelah diancam akan dibunuh banyak orang—, sehingga terpaksa menyembah-nyembah minta supaya semua orang jangan membocorkan rahasianya, karena ia telah diancam Sukrojendra.

Arsip Cerpen di Indonesia