Balung Kere

Krajet terpaksa pergi meski telah dibayar penuh dengan harga borongan, setelah Sukrojendra bilang: kalau tamu perempuan itu tanggung jawabnya Gegrasana, kalau Gegrasana sendiri yang (nanti) akan mengantarnya pulang ke Sauryaba—kemudian di pagi harinya ia didatangi dan diancam Glugu Kepruk, yang memintanya supaya tidak banyak omong kalau masih ingin selamat. Usai mendengar tuturan itu, si orang-orang kampung termangu, menelan ludah basi, serta pelan manggut tidak berdaya. Percaya—karena memang begitu (pola) kebiasaannya Sukrojendra. “Siapa wanita itu? Orang mana?” sergah si kamituwa Pring Purwa. Krajet cuma menggeleng-gelengkan kepala. Hanya bilang, bila si perempuan itu turun dari dokarnya Wragil, yang mangkal depan Pasar Kecamatan Sarwa Doyong, pos semua bis Sauryaba-Napagara atau Napagara-Sauryaba biasa menaikkan dan menurunkan penumpang—empat kali dalam sehari.

Baca juga: Hari Baik untuk Penipu – Cerpen Agus Noor (Media Indonesia, 15 Juni 2014)

“Wragil hanya bilang: Kang, wanita ini minta diantar ke rumahnya Gegrasana—anaknya Sukrojendra. Ongkosnya terserah, ia minta ditunggu, karena masih ngejar bis terakhir. Drop saja di Pasar Sarwa Doyong sana. Tak jelas: apa akan ke Napagara apa akan ke Sauryaba.”

“Kau tak omong-omong?”

“Nggak berani. Dia tamunya Sukrojendra!”

***

KATA Mbok Tenan, pelayan rumah Sukrojendra, wanita itu teman sekolah dan pacarnya Gegrasana. Hubungannya sangat intim sehingga hamil. Karena itu sengaja ditinggalkan Gegrasana, karena setelah lulus berijazah dari Sekolah Dagang itu ia ada ditunangkan dengan Maksaiti, anak ragil Camat Silitijo. Karena itu, dari Sauryaba, ia sengaja datang ke Tinggrantul—untuk meminta pertanggungjawaban Gegrasana. Dan setelah selama semingguan bertanya ke sana kemari, ke semua teman Gegrasana di Sauryaba: Ia nekat melacak. Salah satu teman Gegrasana hanya bilang, rumahnya di Tinggrantul, jauh ke pedalaman setelah bis antarkota berhenti di Sarwa Doyong—titik di antara Ngunjak dan Damiun, Napagara. Cuma memberi ancer-ancer masuk jalan kampung yang sebelah kiri.

Baca juga: Perihal Orang Miskin yang Bahagia – Cerpen Agus Noor (Jawa Pos, 31 Januari 2010)

“Pokoknya,” kata Mbok Tenan, perlahan menirukan omongan si tamu perempuan Gegrasana itu, “aku naik dokar, lalu bilang ingin bertemu dengan Gegrasana, anaknya Sukrojendra.” Orang-orang mengangguk paham. Dibawa Wragil ke Pasar Awu-Awu Lor, dan dibawa Krajet ke Tinggrantul, ke rumah Sukrojendra dan bertemu dengan si Gegrasana. Dan memang, dengan kalimat seperti itu akan banyak yang menunjukkan arah sekaligus akan banyak dokar yang dengan sukacita akan mengantarkannya. Dan di siang itu si wanita diterima langsung oleh Gegrasana, kemudian disitemui Nyi Mas Tibaniah, ibunya Gegrasana –disuruh mandi, berganti pakaian dengan yang disiapkan, makan, dan beristirahat. Dijanjikan akan dipertemukan dengan Sukrojendra yang saat itu kebetulan sedang mengurus jual beli sapi. “Mereka kelonan,” bisik si Mbok Tenan—maksudnya si wanita itu bercinta dengan Gegrasana, di siang bolong di rumah orang yang mungkin menerima dan tidak menerimanya sebagai menantu.

Arsip Cerpen di Indonesia