Rasanya, Bus Ini Teramat Lamban

Oya, waktu aku akan pergi, ibu menangis. Ayah tak tahu ke mana. Sedangkan, adik-adikku (yang berjumlah tiga), hanya bisa melambai dari jauh. Dan Rita cuma mengirimkan secarik surat. Surat berwarna putih. Dengan tulisan yang singkat: “Kau pergi. Aku malu. Tapi aku menunggu. Menunggu bukti. Jika kau bisa berubah.” Tentu saja aku tercekat. Tapi itu cuma sebentar.

Sebab, aku tahu, jika Sahib yang mengakui, mungkin akan lebih parah. Sebab, saat memulurkan lengannya ke motor Pak Kades, Sahib butuh uang untuk menebus obat ibunya dan bayaran sekolah adik-adiknya. Padahal, siapa pun tahu, Sahib adalah tulang punggung keluarganya. Keluarga yang telah ditinggal mati si bapak. Keluarga yang ribut melulu. Keluarga dengan seorang ibu dengan enam anak. Termasuk Sahib yang paling besar. Keluarga yang harus bertahan dengan segala kekurangan.

Baca juga: Kota Mayat – Cerpen Haryo Pamungkas (Koran Tempo, 27-28 Oktober 2018)

“Kau baik sekali, Adib,” kata Sahib di terminal. Dia merangkulku. Aku merangkulnya. Tapi dalam hatiku, sebenarnya ingin menggampar wajahnya. Wajah yang kelewat polos itu. Dan kelewat tak bisa berpikir barang sejengkal pun. Gila. Benar-benar gila. Tapi, apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Dan aku mesti menanggung semua yang tak aku lakukan. Maka, aku pun pergi dari kampung. Pergi mengembara.

***

Di pengembaraan itu, Kota Pendapat adalah kota yang pertama aku datangi. Sebuah kota yang sejuk. Tenang. Giat. Meski semua wajah penduduknya seperti rumus atau deskripsi teori keilmuan. Apa-apa yang mereka katakan dan kerjakan, selalu berdasar pada pendapat seseorang. Baik seseorang yang tersohor maupun yang masih merangkak. Seseorang yang berwibawa maupun yang pendebat. Misalnya:

Baca juga: Boneka Terakhir Seli – Cerpen Erwin Setia (Koran Tempo, 20-21 Oktober 2018)

“Apa yang ingin kita masak hari ini?” tanya seorang istri pada suaminya.

“Menurut pendapat Prof Mukri, ini bulan tiga. Maka angin timur datang. Hujan sedangan. Yang baik adalah memasak bayam dengan ikan mujair,” jawab suaminya.

“Lalu, tentang harganya, masih seimbangkah dengan uang belanja kita. Sebab, menurut Dr Krimuni, daya hidup keluarga harus seimbang antara daya beli dan kebutuhan?”

Arsip Cerpen di Indonesia