Kotoran Seekor Luwak; Cangkang Siput; Sumur Energi; Bunga Matahari

Puisi-puisi Alpha Hambally (Koran Tempo, 03-04 November 2018)

Kotoran Seekor Luwak ilustrasi Koran Tempo
Kotoran Seekor Luwak ilustrasi Koran Tempo

Kotoran Seekor Luwak

 

Di permukaan lambungmu yang cekung, aku

benamkan diri menerabas selaputnya untuk

mencari kepingan tubuhku: kulitku yang

berceceran di antara bakteri dan protein,

dagingku yang menempel dari satu zat dan

serabut urat serta hasrat yang tak pernah bisa

mencapai puncak yang menghapus jalan

kembali ke pangkalnya yang suram. (Tapi

bagaimana pun, aku memang telah doyong

kehabisan energi.) Kepingan itu pun tak

kunjung bersatu meskipun sebongkah wahyu

muncul membasuh bibirmu dan sisa noda

pertempuran yang tertinggal di gigimu. Kau

meremasku hingga pipih, melebihi daging

seekor cacing pita yang kau besarkan dengan

puting indukmu. Seluruh waktuku habis untuk

menjalin hubungan rahasia dengan sebutir

virus agar ia mengenalkanku pada arus air

senimu yang ternyata hanya memutar arahku

ke hulu hasratmu. Tapi aku tak pernah hanyut

hanya karena terseret lautan madu yang

tumpah dari kelaminmu. Aku putus asa dan

berdoa agar jantungmu dipompa oleh asap

candu hingga paru-paru dan pencernaanmu

bisa kuajak tertawa. Karena setelah itu

taringmu akan masuk melalui pori-poriku,

mengelupas kulitku sampai lapis terdalam.

Kau kunyah dagingku dan memuntahkan

ampasnya ke dalam bau. Kau paksa aku

berjalan di sepanjang ususmu yang beringas

tanpa sehelai baju. Kau dorong sisa tubuhku

menuju lubang penghabisan bersama gas yang

senantiasa bersamaku, setelah aku mampu

bersemedi ketika ginjalmu bekerja untuk

mendengar doa-doa yang selama ini tak pernah

kau kabulkan, dan untuk mengirim pengakuan

ini kepada biji-biji yang kelak bernasib serupa,

meskipun tak ada gunanya.

 

2018

Arsip Cerpen di Indonesia