Kotoran Seekor Luwak; Cangkang Siput; Sumur Energi; Bunga Matahari

Kotoran Seekor Luwak ilustrasi Koran Tempo
Cangkang Siput ilustrasi Koran Tempo 

Cangkang Siput

 

Di dalam rongga ini, kau menawarkan banyak

pintu yang semua jalannya membentang ke

ujung kosmos, serta beberapa kamar untuk

menopang badanku apabila suatu saat

kelaminku patah dan hanya sebelah mataku

yang berdiri sebagai keturunanmu. Tapi aku

hanya memilih duduk di ruang tamu, menjadi

orang asing yang mencatat dan mengampuni

dosanya sendiri, karena aku tak seabadi dirimu

yang bisa melalui air liur tanpa harus berjalan.

Meskipun liur itu selalu kauusap dengan sapu

tangan dari balik pepohonan, ia akan

mendesak terus melampaui batas kakimu dan

kekentalannya memenuhi setiap jalan di dalam

tidurmu yang tiada pernah mencapai ujung

mimpi. Tapi kau malah memanjangkan

ruangmu, menjangkau jarak antar dimensi,

supaya aku bisa masuk lebih dalam lagi.

Padahal dari ruang tamu, aku seperti berada

dari luar Bimasakti sekaligus duduk di atas

matahari. Aku selalu bisa mengintip dari

celahmu dan membiarkan detail terakhir pada

pelangi tersusun dari garis magenta yang

kemudian meletakkan berkas kecilnya di

kolam penuh angsa, sehingga unggas itu

terbang membawa semua warna. Maka jangan

tawarkan padaku lagi sebuah pintu, karena

cahaya di luar kosmos pun ada pada langkahku

yang pelan tapi kian dalam masuk ke tubuhmu

tanpa perlu melalui rongga suci kepunyaanmu.

 

2018

Arsip Cerpen di Indonesia