
Bunga Matahari
Masih ada yang terkenang, ketika kubentang
mataku dari atas cakrawala, kulihat kau
merancap dengan tergesa, penuh ketakutan.
Meskipun tetap setia pada satu bayang.
Kau diselubungi mawar hitam, dibungkus pagi
yang fiksi, di dalam lanskap badanku yang
hanya bisa menjadi biji. Kau memupuknya dan
aku pun menjulang nun ke atas, tinggi sekali,
keluar Bimasakti.
Kau pun melihat dari ujung terjauh melalui
sebuah potret dari angkasa. Mencari
persembunyianku, merindukanku sekaligus
mengancamku agar menurunkan wahyu atau
kadang sekadar menceritakan kembali jalan
yang tak boleh dilewati sebab segala sesuatu
yang tumbuh di sepanjang hanya akan
ditebang kembali sebagai ruang berahimu.
Hingga aku pun tersiram sampai ke bawah,
kulihat magma, lava yang mencari pintunya
atas lorong panjang sebagai jalan yang tak
boleh dilewati orang-orang di atas, jalan
berliku ke bawah, yang sampai ke atas.
Yang menghisap kita nun ke bawah jauh sekali
ke kulit bumi, ruang yang bisa digapai dengan
hati paling sepi.
2018