Kotoran Seekor Luwak; Cangkang Siput; Sumur Energi; Bunga Matahari

Kotoran Seekor Luwak ilustrasi Koran Tempo
Bunga Matahari ilustrasi Koran Tempo

Bunga Matahari

 

Masih ada yang terkenang, ketika kubentang

mataku dari atas cakrawala, kulihat kau

merancap dengan tergesa, penuh ketakutan.

Meskipun tetap setia pada satu bayang.

Kau diselubungi mawar hitam, dibungkus pagi

yang fiksi, di dalam lanskap badanku yang

hanya bisa menjadi biji. Kau memupuknya dan

aku pun menjulang nun ke atas, tinggi sekali,

keluar Bimasakti.

Kau pun melihat dari ujung terjauh melalui

sebuah potret dari angkasa. Mencari

persembunyianku, merindukanku sekaligus

mengancamku agar menurunkan wahyu atau

kadang sekadar menceritakan kembali jalan

yang tak boleh dilewati sebab segala sesuatu

yang tumbuh di sepanjang hanya akan

ditebang kembali sebagai ruang berahimu.

Hingga aku pun tersiram sampai ke bawah,

kulihat magma, lava yang mencari pintunya

atas lorong panjang sebagai jalan yang tak

boleh dilewati orang-orang di atas, jalan

berliku ke bawah, yang sampai ke atas.

Yang menghisap kita nun ke bawah jauh sekali

ke kulit bumi, ruang yang bisa digapai dengan

hati paling sepi.

 

2018

 

Alpha Hambally lahir di Medan, 26 Desember 1990. Selain puisi, ia menulis cerpen dan esai. Cerpennya masuk dalam buku Cerpen Terbaik Tempo: Setan Becak, Ayoveva, hingga Chicago May (2017). Ia bekerja lepas sebagai penulis dan editor di Jakarta.

Arsip Cerpen di Indonesia