Kotoran Seekor Luwak; Cangkang Siput; Sumur Energi; Bunga Matahari

Kotoran Seekor Luwak ilustrasi Koran Tempo
Sumur Energi ilustrasi Koran Tempo

Sumur Energi

 

Protonku telah berputar sempurna meskipun

baru mengitari separuh galaksimu yang

telanjang. Aku raba ujung bulu tipis penuh

cahaya yang tumbuh di lehermu. Ada bintang

jatuh yang segera kusingkap ke balik kabut di

sebuah bukit. Kugenggam ekornya dan

kutebarkan di kelaminmu supaya intimu

bercahaya dengan berbagai warna. Karena itu

yang akan membalutmu, mengabadikanmu

selagi aku menyambut gumpalan hitam yang

biasa menyerap tubuhmu ketika ingin menyala

sekali lagi. Kubiarkan gumpalan itu membuat

punggungku meleleh dan isinya hanyut di

sepanjang sungai yang kualirkan sendiri

menjadi puluhan cabang, bermuara dan

tenggelam ke dalam matahari, sementara yang

tersisa dari hidupku telah terlempar jauh ke

luar ambang waktu. Di luar sana, aku

mendapati diriku berjalan seorang diri menuju

hari ini berada. Tapi aku tertahan oleh ombak

pasang yang membuatku berontak dan

terlempar lebih jauh, berbenturan dengan

banyak energi hingga tubuhku pun terbagi

menjadi gugusan pulau. Lalu kita bertelur dan

membiarkannya menetas menjadi diri kita

yang nantinya ketika telah dewasa mereka

membuatku lupa rupa wajahku sebenarnya

karena terus dilapisi oleh kulit yang bukan

milik kita, sebelum nantinya aku terpanggil ke

dalam rahimmu, terbungkus cangkang dari

cahaya, terbalut lapis radiasi, hingga aku

merancap sambil berotasi.

 

2018

Arsip Cerpen di Indonesia