Tentara itu menaruh hormat. Bahkan, mencium tangan Emak tanda takzim. Merasa Emak juga pejuang bangsa ini, membantu tentara era 1965.
***
Pemeriksaan demi pemeriksaan militer terus dialami Emak. Karena itu pula, pendengarannya sangat terlatih. Begitu ada orang berjalan di luar rumah, walau malam hari, dan emak tertidur nyenyak, pasti dia segera bangun. Meng-gerehem sebagai kode di dalam rumah ada penghuninya. Satu hal yang dikhawatirkan Emak selama masa perang ini, militer akan membakar rumahnya. Gerehem itu sebagai kode di dalam rumah ada penghuni dan jangan dibakar.
Terkadang militer geram akan tindakan gerilyawan yang kerap menyerang mereka tiba-tiba, setelahnya lari ke permukiman warga. Saat itulah, api membumbung dari rumah yang dicurigai milik gerilyawan. Namun, jika di-gerehem, militer hanya memeriksa seisi rumah.
Baca juga: Mimpi dan Takdir – Cerpen Raihanan Sabathani, SP (Republika, 07 Oktober 2018)
Matahari baru saja tenggelam ketika aku membawakan surat dari Ayah. Surat itu dikirim ke sekolah, dan tiba siang tadi. Emak membaca seksama. Raut wajahnya datar. Nyaris tanpa ekspresi. Aku tak membaca sedikit pun isi surat dari Ayah.
“Ambil kertas dan tulis apa yang kukatakan.”
Aku merobek kertas dari buku sekolah. Lalu mendengar ucapan demi ucapan Emak. Sungguh aku terkejut mendengar ucapannya. Suamiku, kurestui engkau menikah. Aku tak bisa memenuhi kebutuhanmu karena jarak ruang dan waktu. Kau bisa menikah. Jangan khwatirkan anak-anak, mereka bersamaku dan terus kujaga sepanjang usiaku. Namun, surat ini berharap untuk balasan kata cerai darimu. Karena sebaik-baik wanita adalah mengikhlaskan suaminya menikah dan tidak menyakiti wanita lainnya. Engkau mendapat restuku.
***
Baca juga: Riwayat Cermin – Cerpen Irul S Budianto (Republika, 30 September 2018)
Matahari terus menanjak, persis di atas kepala. Emak masih duduk bersila. Tangannya mengambil wadah tempat air ludah bekas sirih yang dikunyah. Tujuh hari ini, dia menunaikan tugasnya sebagai seorang ibu, yang membantu anak-anaknya mengurus proses pemakaman ayah mereka. Bukan sebagai seorang istri.
“Kau harus rajin berziarah ke makam ayahmu. Kirimkan doa untuknya. Segala perbuatannya meninggalkan kalian atas izinku. Jangan salahkan dia.”