Baca juga: Danau dan Sepotong Cerita – Cerpen Fina Lanahdiana (Republika, 23 September 2018)
Bagi kami, ucapan Emak adalah perintah yang harus dilaksanakan. Emak pula yang menemani kami melewati perang hingga musim damai ini tiba. Perintah emak yang menggerakan langkahku menjemput ayah di rumah istri mudanya untuk ke rumah sakit. Mengobati penyakit hati. Ayah meninggal sepekan setelah dirawat di rumah sakit. Persis di pangkuan Emak dan kami sebagai saksinya. Sedangkan, istri mudanya tak pernah hadir hingga hari-hari terakhirnya menghadap sang pencipta. Dan, seorang gadis kecil, berusia tujuh tahun hari ini, anak ayah dengan istri mudanya pun kini bersama Emak.
“Aku merestui ayahmu. Anak ini, juga anakku. Juga adik kalian. Jangan kucilkan dia. Ayahmu sama seperti warga lainnya, sama seperti militer atau gerilyawan yang kutolong. Ini bukan soal hati. Ini soal kemanusiaan. Kalian harus memanusiakan manusia.”
Masriadi Sambo nama pena dari Masriadi, penulis novel Cinta Kala Perang (ElexMedia 2015), Cinta Kala Perang (Kaki Langit Kencana, 2016), dan jurnalis Kompas.com serta pengajar Ilmu Komunikasi, Universitas Malikussaleh, Aceh. Bisa dihubungi lewat dimas@unimal.ac.id.