Langit Malam Zainah

“Orang pesisir, meski perempuan, dia harus seteguh laut,” katanya.

Dua batang pohon yang telah terikat kuat itu beberapa hari ini sudah ada di atas batas pantai, Zainah menungganginya. Tak peduli waktu, dia selalu nampak berdiri di dua batang pohon kelapa itu.

“Jika nanti kau datang dan tak mendapatiku lagi di sini, berarti Khidir telah datang menggembalakan angin yang membawaku ke Benua Australia.”

“Kau tunggu aku di sini, sampai aku kembali.”

Baca juga: Hutan Air Mata – Cerpen Mustofa W Hasyim (Kedaulatan Rakyat, 07 Oktober 2018)

Dan benar saja, beberapa hari setelah mengatakan itu, aku tidak lagi menemukannya, juga tak ada lagi batang pohon kelapa tunggangannya, Zainah benar-benar pergi ke Benua Australia. Orang yang tahu kabar itu mengatakan dia gadis sinting, namun Kyai Muslih bilang, hanya dia yang keliru menafsirkan apa yang disampaikan gurunya. Sementara desa-desa sepanjang pesisir sempat sibuk mencari mayatnya di sepanjang pantai, kalau-kalau dia mati terseret arus ombak.

***

Di usiaku yang ke tujuh puluh empat ini, aku tetap berada di sini, meski kantung mataku mengkerut, tanganku gemetar setiap menggenggam sesuatu dan tubuhku tak selurus sebelumnya, namun aku yakin Zainah tak mungkin melupakan boleng cokelat di pipiku.

Baca juga: Kesaksian Burung Manyar – Cerpen Wahyu Arshaka (Kedaulatan Rakyat, 30 September 2018)

Kadang aku membayangkan dia tersesat dalam perjalanan pulangnya, atau dia terlalu betah di benua itu dan telah beranak cucu di sana, sehingga lupa pesisir ini tanah kelahirannya. Tapi tak sekalipun aku pernah membayangkan dia mati. Aku tak melihat bagaimana dia pergi bersama angin-angin yang digembalakan Khidir, maka aku harus melihatnya pulang bersama angin-angin itu.

Pada penantian ini aku selalu memperhatikan orang-orang yang menatapku heran. Aku tak menyalahkan mereka. Seorang lelaki, duduk di bangku kayu dengan setelan jas lengkap, disangga tongkat kayu, menunggu seseorang di pantai yang bukan dermaga pulang dari perjalanannya mengunjungi Benua Australia, memang terdengar aneh. Tetapi itu kenyataan dan satu-satunya alasan kenapa aku duduk di sini.

Arsip Cerpen di Indonesia