Deny Oh Deny Oh Oh

Rencananya: pada abad ke-21 mendatang, jalur ke Badean ditutup dan lahan-lahan dari pesisir sampai dengan Tegalwero dan Karanganyar akan digusurratakan untuk Bandara Internasional Banyuwangi.

Ah, itu kan nanti-nanti, di jaman milinium baru, kini kami masih asyik wara-wiri Banyualit/Blimbingsari—Patoman, menyusuri Badean—Sukojati atau Karanganyar—Karangbendo terus mencapai jalan raya aspal: ke kiri Jajangsurat—Rogojampi dan kanan kota Kabupaten Banyuwangi.

Nik! Denik! Itu panggilan masa kecilnya. Setiap nama diakhiri huruf hidup terbuka biasa ditutup (’) hamzah berbunyi “k”: Tuti-tutik, Pardi-pardik, Wati-watik, Supi-supik, Lili-lilik, Cici-cicik—Denik-Nik, segenggam bunga jadi keindahan di tembikar patung babon, segenggam pakis muda terhidang di piring meja warung untuk sarapan: tumis dengan irisan petai muda dan rajangan lombok ijo.

Denik-Nik bermain lincah, sepak tekong dan loncat tali karet gelang, merumput mahir, menggembala jagoan, dan masak “pedo”, ah, dua bakul nasi bias amblas gara-gara pedo diorak-arik.

Denik-Nik, ketika masuk SR (sekolah rakyat—kini SD sekolah dasar) Watukebo, kau harus berputar lewat jembatan panjang Tegalwero. Tak betah kelamaan dan jalan jauh, kamu potong kompas berlari sepanjang pematang sawah, ke barat, sampai di seberang SR: kamu buntal rok biasa dan baju dalam tas kain—belum ada aturan seragam putih-merah. Hanya bercelana pendek kamu terjun ke kali, menyunggi buntalan di atas kepala, berjalan di air ke pohon kelapa doyong di seberang. Mentas dan berpakaian lengkap, lari-lari naik ke sekolah.

Aku tak jumpa penyeberang kali setiap ke sekolah itu empat tahun karena dari Rogojampi tidak abunemen sepur pagi ke SMP Banyuwangi tapi pindah ke PGAN 4 tahun Jember. Lulus Jember tidak PGAAN 2 tahun Malang, tapi sebagai bonus lulus terbaik kedua akan ke Yogya di PHIN 3 tahun, calon Panitera Pengadilan Agama, aku pulang istirahat di Rogojampi (rumah Emakku) dan Karanganyar rumah asal (berdoa di makam Bapakku).

Kutemukan Denik-Nik, ya ampun, perawan kencur sudah tumbuh menjelang remaja: Hei, ayo lomba renang di Dam Tegalwero.

Dia lari-lari pakai sewek pinjaman Emaknya sembunyi di sentong samping.

Dia sudah gede, Kangmas, jawab Emaknya. Bapaknya sedang mencangkul di ladang Tegalwero.

Arsip Cerpen di Indonesia