Deny oh Deny oh oh
Andaikan nggak pingin ke Yogya yang katanya antik-misterius Kratonnya dan Universitas Gajah Modo menempati balairung gapura depannya, aku pasti sudah “dapuk” suami dan “daup” Denik si bini remaja.
Aku di Yogya lulus jadi panitera tidak, kuliah tidak, kerja tidak, tapi keluyuran keliling Jawa—baca puisi dan main drami—eh—drama, deklamasi sudah nggak “peye”.
Keliling sampai pula Rogojampi berpentas di GNI (Gedung Nasional Indonesia) dekat lapangan bal-balan Sempi, kata orang, sarang lonte pimpinan Mbok Serok, GM van Semarang, germo bukan “general manager”.
Dari GNI ada jalan berbatu ke timur melewati kandang-kandang babi, dan mata air Kepundung di Bukit Pancoran, gantungan hidup orang se-Karanganyar.
Aku iseng jalan pagi ke sawah/rumah Mak Denik:
Ei, Kangmas, pulang ke desa tah?!
Mana Denik-Nik, Mak?
Wah, sudah diboyong Kangmas Carik Mursid Sukojati. Pesta kawinnya, ya, di jalan pinggiran sawah ini, gandrung Kemiren Banyuwangi, mocoan Aljin Genteng, dan Damarwulan Geladak Banje, selama siang hari manggung angklung paglak bersautan dengan tabuhan alulesung emak-emak Bades.
Kubayangkan betapa tiga tontonan tiga malam itu kebanjiran penonton, pengibing, dan penyawer mulai Blimbingsari, Pecemengan, Patoman, Tegalwero, Watukebo, Krasak, Maras, Pancoran, Karanganyar, Badean, Karangbendo, Bades, Jajangsurat, sampai Rogojampi dan Pakistaji.
Mampir tah? Itu nasi jagung, sayur kelor, sambel pete, ikan asin bakar. Emak baru masak. Makanya tadi burung-burung riuh di bubungan, rupanya ada tamu dari jauh.
Terima kasih, Mak. Sudah kenyang tadi sarapan nasi cawuk Jalan Stasiun.
Saya pamit ke kuburan Bapak di kebun kelapa Karanganyar.
Angan dan nostalgia kenikmatan sarapan desa di warung gubuk pedokan ditemani Denik-Nik, sudah buyar ambyar dengan sendirinya.
Aku berbalik bergegas ke Karanganyar dengan tiba-tiba tercekat batuk.
Deny uhk Deny uhk uhk….
Kartika Chandara-Sutta-Juanda-Gayungan, 29/10/18
Akhudiat, lahir di Rogojampi, Banyuwangi, 5 Mei 1946. Penulis 5 naskah drama Pemenang di Dewan Kesenian Jakarta: “Grafito” (1972), “Jaka Tarub” (1974), “Rumah Tak Beratap” (1974), “Bui” (1975), “RE” (1977). Buku “Theatrum: Antologi 10 Lakon”