Dia melihat beberapa kawan masih bermain di tanah lapang depan rumah. Bola mata bening Ana menatap lurus ke teras. Setiap Minggu, hanya pemandangan itulah yang ia sukai: Ayah menata kue pesanan.
Ana tersenyum lebar ketika Ayah menatap dari jauh, lalu mendekat, dan dari balik jendela tangan kurusnya mengetuk-ngetuk kaca jendela.
“Cepat mandi. Kita harus siap-siap,” suara Ayah terdengar jenaka di telinga Ana.
Ana tertawa saat wajah Ayah menempel ke kaca jendela; wajah peot-peot. Ayah kembali menyuruh dia mandi. Suaranya tidak jelas. Namun itu justru membuat Ana tertawa.
Baca juga: Negeri Asap – Cerpen Angga T Sanjaya (Suara Merdeka, 04 November 2018)
“Ana, mandi!” teriak Ibu dari ruang tengah.
Beberapa kali teriak, tak terdengaar sahutan. Ibu pun menyibak tirai kamar Ana. “Pakai gamis bunga-bunga ya, biar kembar dengan Ibu.”
Ana mengangguk. Ia berlari kecil ke kamar mandi. Di kamar mandi, ia bertanya-tanya: apa yang menarik pada hari Minggu? Mengapa hari Sabtu teman-teman selalu riang gembira dan berkata senang karena esok hari Minggu?
Di kamar mandi, setiap Minggu pagi, Ana selalu bertanya-tanya: apa yang menyenangkan pada hari Minggu, selain melihat Ayah menata kue di keranjang sepeda jengki di teras depan?
Baca juga: Lelaki Itu Memilih Pintu Berbeda – Cerpen Ismul Farikhah (Suara Merdeka, 28 Oktober 2018)
Ana selalu senang melihat Ayah menata kue. Ia sangat bangga memiliki Ayah, yang berbeda dari ayah teman-teman di sekolah. Di kelas, ketika guru menugasi mereka bercerita tentang ayah, hampir semua teman bercerita tentang pekerjaan ayah mereka; polisi, tentara, dokter, pedagang, guru, dan pekerjaan yang menurut guru pekerjaan laki-laki umumnya.
Ketika maju ke depan kelas, Ana menceritakan rutinitas Ayah pada hari Minggu: membantu Ibu. Ayah tukang kebun. Setiap sore hari Ayah pulang, lalu menyirami bunga-bunga di depan rumah.
Beberapa teman tertawa. Namun tak sedikit pula yang meminta Ana membawakan beberapa bunga ketika guru menugasi setiap anak membawa pot bunga saat Jumat Bersih di sekolah.
“Ana! Jangan lama-lama! Keburu siang!” Ucapan Ibu segera mengembalikan Ana dari lamunan tentang hari Minggu.