Gadis Itu Tak Suka Hari Minggu

Sepeda berderit-derit saat keluar dari gang. Tangan Ana menempel erat ke pinggang Ibu. Di belakang, Ayah mengayuh dengan santai. Minggu itu, Ana ingin duduk di boncengan Ayah. Namun pasti Ibu melarang.

“Pamit dulu pada Ayah,” ucap Ibu seratus meter dari persimpangan.

Baca juga: Percumbuan Topeng – Cerpen S Prasetyo Utomo (Suara Merdeka, 02 September 2018)

Ana menurut. Ia menoleh dan melambai-lambaikan tangan pada Ayah. Ayah melambai-lambai juga.

Dari persimpangan itulah, Ana bersama Ibu berbelok ke kiri, menuju Masjid Agung. Ayah berbelok ke kanan, menuju gereja. Minggu itu Ana menemu jawaban kenapa tak menyukai hari Minggu.

Sepeda terus berderit-derit. Tubuh Ana bergoyang-goyang, tetapi dia tak lagi menengok ke belakang. (28)

 

Umi Rahayu, mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (FBS Unnes). Cerpennya termuat dalam antologi, antara lain Nasionalisme Kemen.

Arsip Cerpen di Indonesia