“Endapkan segala egomu tentang hujan karena hujan sangat mencintai Sang Pencipta. Ia meluncur dan memeluk bumi karena cintanya pada Sang Pencipta. Ia turut mengantarkan kepergian ayah lantaran cintanya pada Sang Pencipta.”
Berbicara hujan selalu menusuk perasaanku. Terakhir kali hujan menyapaku bersama kilatan petir, gemuruh guntur, dan jalanan yang begitu semrawut. Mendung sepulang sekolah. Aku memacu sepeda motorku. Aku tidak ingin bertemu hujan dalam kekalutan seperti ini. Namun nyatanya hujan menyerangku tanpa ampun. Jalanan terasa licin, sepeda motorku oleng, dan aku rebah di atas aspal. Darah merembes bersama air mewarnai seragam putih abuku.
Aku terkapar di rumah sakit untuk beberapa waktu. Kulitku lecet-lecet. Tangan kiriku retak. Ibu yang menungguiku tergugu. Barangkali Tuhan masih enggan meregang nyawaku. Kondisiku membaik dan aku diizinkan pulang. Perawatan dilanjutkan di rumah. Tanpa masuk sekolah, hari-hariku terasa sepi.
“Tulislah segala resahmu di atas kertas. Kertas tidak akan memerotes apa yang akan kamu tuliskan sekalipun berupa umpatan. Kau tahu The Screet Anex? Buku itu telah menjadi saksi sejarah kenestapaan perang. Buku harian itu telah beredar di penjuru dunia dan menjadikan Anne Frank dikenal. Tidakkah itu menakjubkan? Anne Frank bukan siapa-siapa, ia gadis seusia kita.”
“Kuhargai usahamu untuk membuatku tetap tersenyum,” jawabku ketika itu dan aku mulai menulis dalam kesendirian. Tidak tentang kisahku, tidak tentang benciku kepada hujan, melainkan tentang cerita indah dalam khayalku. Aku menukar kepahitanku dengan rasa manis dalam setiap goresan cerpenku. Dan Wulan, akan selalu datang untuk membaca cerita-ceritaku. Kadang ia tergelak, tapi tak jarang mengernyit.
Aku menikmati kegiatan anyarku. Aku terus menulis. Terserah Wulan mau membawa ke mana tulisanku. Kadang tulisanku menempel pada majalah dinding sekolah Wulan. Sesekali singgah di majalah lokal. Namun lebih sering terkirim tanpa kabar.
Beberapa hari hujan turun tanpa henti. Di televisi dan koran sibuk memaparkan berita banjir, tanah longsor, pohon tumbang terkena hantaman petir. Inilah fakta buruk tentang hujan. Biarpun Wulan selalu berkata, hujan adalah rahmat. Hujan memainkan peranan penting dalam siklus hidrologi. Lembapan dari laut menguap, berubah menjadi awan, berganti mendung, lalu turun ke bumi dan akhirnya melalui aliran sungai kembali ke laut. Hujan dinanti oleh petani untuk menyiram tanaman, hujan dirindukan sang kodok agar dapat berenang dengan gembiranya.