Wulan belum datang juga. Apa ia terhalang hujan sehingga tidak bisa mengunjungiku? Apa Wulan mulai membenci hujan dan enggan berbasah ria untuk sampai ke tempatku? Perlahan aku merindukan hujan. Hujan yang menyertai kedatangan Wulan. Hujan yang disambut Wulan dengan suka cita seperti bumi kerontang yang tak kunjung berjumpa dengan air. Wulan, aku merindukanmu.
Pintu kamarku terbuka. Wulan datang tepat sepekan sejak aku menunggunya. Wajah putihnya selalu sumringah. Lagi-lagi, ia datang bersama hujan dan petir yang menggelegar.
“Lihatlah, aku membawa kabar untukmu. Kabar yang datangnya berteman hujan dan kasih sayang-Nya.”
Wulan memberiku selembar kertas ukuran folio. Diperlihatkannya nama-nama yang tertera dalam kertas itu. Salah satu nama yang ada adalah namaku. Cerpenku menjadi nomine dalam sebuah kompetisi tingkat nasional.
“Apa kau masih membenci hujan, sedangkan hujan selalu menyampaikan salam cinta dari-Nya?” Sebuah pertanyaan dari Wulan yang aku biarkan terpatri dalam hati.