Saya Menikahi Seorang Ateis

Meskipun demikian, perang memang bukan satu-satunya ancaman paling menakutkan yang mengoyak-ngoyak rasionalitas penghuni dukuh kami—tidak punya listrik dan akses informasi yang memadai saja sudah membuat kami tertinggal dalam semua hal nyaris setengah abad. Nyatanya, sumber bacaan yang tersedia di dukuh kami hanya Al-Quran dan kitab-kemitab kuno yang dijejali dengan huruf Jawi belaka, dan itu pun cuma didaras dengan serius oleh generasi lontok yang sudah kehilangan selera untuk menuruti godaan duniawi, sehingga hampir tidak ada seorang pun yang melek aksara Latin atau memahami fungsi angka melebihi hitung-hitungan jumlah ternak. Karena itu, pada masa-masa awal ketika Pasukan Tentara mulai membangun barak minimalis sebagai mastautin sementara, banyak warga yang melempari tempat itu dengan bongkahan batu dan balok kayu hanya karena menemukan sebuah buku saku UUD ‘45 milik salah seorang tentara yang tercecer di jalanan dan mereka curigai sebagai lembaran laknat yang berisi ajaran sesat.

Baca juga: Rasanya, Bus Ini Teramat Lamban – Cerpen Mardi Luhung (Koran Tempo, 03-04 November 2018)

Sayangnya, Pasukan Tentara malah salah kaprah dalam menanggapi aksi konyol tersebut, lantaran mereka menganggap sekumpulan warga yang protes itu sebagai utusan Gerombolan Tiga Huruf, sehingga menembak mati semua orang yang mencoba untuk melawan. Tidak dapat dimungkiri: perkara sepele semacam itu pada akhirnya berhasil membentuk kesepakatan kolektif yang membuat kami merasa hidup lebih nyaman bersama Gerombolan Tiga Huruf yang tidak menjanjikan apa-apa ketimbang bersama Pasukan Tentara yang berkoar-koar untuk membawa perdamaian dan kesejahteraan bagi dukuh kami.

Sebenarnya momen masa kecil yang paling saya ingat jauh lebih memilukan dari sekadar urusan orang dewasa. Setelah Pasukan Tentara menetap di sekitar area dukuh, kami merasa segalanya benar-benar telah berubah. Salah satu yang paling mencolok adalah hubungan harmonis yang terjalin antara warga dan Gerombolan Tiga Huruf.

Baca juga: Kota Mayat – Cerpen Haryo Pamungkas (Koran Tempo, 27-28 Oktober 2018)

Saban hari Jumat tiba—sementara orang dewasa dan Pasukan Tentara tengah mendengarkan khotbah dan menunaikan salat berjemaah di menasah-saya dan semua anak-anak dukuh berusia 7 sampai 10 tahun ditugaskan oleh Pak Kejurun [2] agar menyusup ke hutan secara berpasangan. Untuk menghindari pengawasan dari tentara, kami disuruh berjalan kaki dengan sembunyi-sembunyi menuju sebuah pondok reyot berdinding gedek yang terletak di tepi rimba. Di sana kami sudah ditunggu oleh seorang perempuan paruh baya yang menyerahkan sebuah berunang berisi makanan dan beberapa jeriken air bersih sebagai bekal harian bagi Gerombolan Tiga Huruf. Waktu itu kami masih terlalu kecil untuk memahami kenyataan, sehingga dengan diiming-imingi hadiah berupa beberapa butir guli, kami langsung menerima tugas itu dengan sukacita.

Arsip Cerpen di Indonesia