Jauh setelah peristiwa itu, takdir mempertemukan saya dengan Siti Zindiki; hingga kami menikah dan saling bersawala sebagaimana percakapan di awal kisah ini.
“Bagi saya,” kata Siti Zindiki, “kematian itu hanya gejala alamiah biasa.”
“Itu karena kamu belum mengalaminya, Sayang,” kata saya.
Baca juga: Los Muertos – Cerpen Putra Hidayatullah (Koran Tempo, 22-23 September 2018)
“Kamu bicara seperti itu seolah-olah sudah pernah mati saja.”
“Saya memang belum pernah mati,” kata saya. “Tapi, ketika negeri ini masih dilanda perang, saya telah menyaksikan banyak momen kematian yang mengerikan.”
“Untuk masalah jumlah, barangkali kamu menang,” katanya. “Tapi apakah kamu pernah melihat ayahmu menembak kepalanya di hadapan matamu sendiri?”
“Tidak.”
Baca juga: September ’99 – Cerpen Fahik Agustinus (Koran Tempo, 15-16 September 2018)
“Saya pernah,” kata Siti Zindiki. “Seharusnya saat itu saya masih sempat untuk menghentikan ayah. Dulu saya percaya tidak ada orang yang lebih baik ketimbang dia. Tapi, sebelum tewas, dia masih sempat menulis sepucuk surat pengakuan yang membuat saya terperanjat. Katanya, sewaktu perang masih berkecamuk, dia pernah menembak kepala seorang bocah di tengah hutan; dan peristiwa itu membuatnya dihantui oleh rasa bersalah di sepanjang sisa hidupnya. Meskipun sesaat setelah membunuh si bocah dia menembak betis kakinya sendiri sebagai cara untuk menebus dosa, tapi hal itu sama sekali tidak membantu. Sebagai wasiat terakhir, dia meminta kami—keluarga yang dia tinggalkan—agar tidak pernah mendoakannya untuk masuk surga. Sejak saat itulah saya mulai memikirkan arti kebaikan yang pernah dia lakukan. Pada akhirnya saya putus asa sehingga menyelesaikan ikatan sepihak dengan Tuhan yang membuat saya yakin bahwa agama tidak lagi saya butuhkan. Nah, sekarang coba kamu ceritakan, dari sekian banyak momen kematian yang telah kamu saksikan, manakah yang paling membuatmu percaya kepada Tuhan dan kematian?”