Kepergian Bapak

Aku pun terkejut melihat bapak tengah menyedot puting susu Mince. Aku tak habis pikir dengan apa yang tengah dilakukannya. Bapak sungguh sudah tidak normal, pikirku. Aku pun langsung masuk kamar dan menegurnya. “Ada apa Pak dengan kucing itu?”

Seperti biasa, bapak tak terlihat kaget atau apapun juga. Ia hanya menatapku. Dari gerak-geriknya, aku memahami. Seminggu sebelumnya, Mince baru saja melahirkan lagi. Akan tetapi, karena anaknya mati, puting susunya membengkak. Karenanyalah Bapak mencoba untuk mengisapnya sendiri. Berharap air susunya keluar, dan nyata-nyata usahanya pun sia-sia. Sungguh, sebuah usaha yang konyol.

Baca juga: Gadis Kecil Bernama Alenia – Cerpen Haryo Pamungkas (Media Indonesia, 07 Oktober 2018)

Di lain waktu, suatu malam, aku pernah membawa bapak berobat ke dokter. Ketika itu ia demam tinggi. Menggunakan motor, aku mengajaknya serta, dan ia pun mau saja, meski ketika ditanya dokter ihwal penyakitnya, akulah yang menjelaskanr. Bapak benar-benar telah bisu. Puasa bicara.

Setelahnya, kami pulang setengah mengebut melewati tanah pekuburan yang tak begitu jauh dari rumah. Jalan itu gelap, tak ada penerangan. Di kanan kiri jalan tumbuh semak-semak, juga ilalang. Tiba-tiba, aku dikejutkan oleh seekor kucing yang tengah melintas. Hampir saja aku menabrak kucing tersebut yang terlihat langsung kabur ke semak-semak. Masih separuh kaget, mendadak Bapak berteriak kencang memanggil kucing tersebut. “Goraaaaaaang!!

Baca juga: Lelucon Eyang Masnawi – Cerpen Mufti Wibowo (Media Indonesia, 30 September 2018)

Aku pun menghentikan laju motor. Bapak kemudian turun dan kembali meneriaki kucing tersebut seraya mencarinya di dekat semak-semak. Tak lama, dari balik ilalang, kucing itu keluar seraya mengeong. Ternyata benar, kucing itu adalah si Gorang, kucing jantan kesayangan Bapak. Segera ia naik ke pangkuan bapak. Sungguh, betapa momen yang tak terlupakan.

Namun, masa-masa itu telah berlalu. Sampai kini, bapak tetap menutup diri, dan hanya sibuk dengan kucing-kucingnya yang semakin banyak saja. Manakala akhirnya datang masa pensiun, Bapak sudah punya dua puluh dua kucing. Rumah kami lebih mirip seperti peternakan kucing ketimbang rumah manusia. Itulah yang menjadikan Ibu akhirnya tak tahan dan dengan berat hati menjual rumah kami tersebut meski harus bertikai dulu dengan saudara-saudaranya. Kami pun kemudian pindah ke Purworejo.

Arsip Cerpen di Indonesia