Dua
Bermula—lewat sebuah pantai, sebuah dermaga umum, para serdadu itu mendekati kami. Kesan asing yang kami tangkap saat itu. Para serdadu itu membersihkan pasir-pasir yang menyumpal mulut muara, tapi kami menolak, kami membuang kepala perahu dengan cepat. Tapi aneh, seakan mereka sudah menduga akan apa yang bakal diterimanya. Dan tetap saja nekat, mereka terus memaksa melayani kami. Membantu, memberikan pelayanan kembali, bahkan terkesan memaksa saat memberikan makanan-makanan asing pada kami. Kami tetap menolak, kami paham betul akan isyarat ini. Lalu mereka mengganti pakaian kami. Bermacam model dan warna pakaian berhamburan ke angkasa, dan banyak dari kami berebutan, bahkan terlihat saling rebut. Mereka tak memberikan kesempatan kami untuk berpikir ataupun berkaca pada nurani, seakan mereka takut kehilangan kesempatan, seakan juga mereka takut akan segera mati, dan akan kehilangan permainan.
Baca juga: Jampi-Jampi Warisan Leluhur – Cerpen Mawan Belgia (Radar Banyuwangi, 14 Oktober 2018)
Dan kami terus menolak, menolak, menolak. Anehnya, mereka tak bosan-bosan mengulang dan mengulang, semangatnya luar biasa, seakan ada hiburan lain buat mereka, seakan menemukan permainan baru yang menyenangkan.
“Bunuh dia!!!”
“Bunuh!!!”
“Jangan, sayang kalau dibunuh duluan.”
“Lalu ?”
“Kita masih butuh hiburan.”
“Kita butuh penghapus kebosanan.”