“Tapi itu kenyataan kewibawaan dan harga diri yang ada di pikiran tiap orang.”
“Itulah kesalahannya. Itulah kesalahan mutlak manusia. Kesalahan yang diusung Adam sampai kamu. Kesalahan yang selalu diulang-ulang. Kebodohan yang terjadi terus menerus. Mustinya kamu berkaca melihat dirimu sendiri. Melihat hati dan pikiranmu. Jangan terus menerus mengumbar nafsu. Bukankah tiap kesalahan adalah guru yang terbaik? Bukankah tiap kesalahan akan berbuah kebajikan?”
Baca juga: Perkawinan Akhirat – Cerpen Mukti Sutarman Espe (Radar Banyuwangi, 23 September 2018)
“Hust, terbalik. Setiap kebaikan akan berbuah kebaikan.”
“O, iya.”
“Tentang peperangan ini. Apakah tidak akan ada satu kutukan, satu mukjijat, satu keajaiban, satu peristiwa besar, kejadian dahsyat, di mana para penindas kalang kabut –kocar-kacir bagai debu beterbangan, mungkinkah?”
“O…tentang itu?”
“Iya.”
“O….”
Baca juga: Marto Timpal dan Kisah Pohon Ipik – Cerpen Eko Setyawan (Radar Banyuwangi, 16 September 2018)
“Cepat, kasihanilah para tertindas ini.”
“O….”
“Cepat!!!”
“Berkacalah pada dirimu sendiri. Adakah semua ini berujung ke jalanmu atau ke jalan asing –jalan gelap– atau jalan cahaya….”
“Omonganmu….”