Dan, ketertarikanmu pada taman itu muncul ketika seorang rekan kerja yang meja kerjanya berdekatan dengan meja kerjamu itu telah membuktikan keajaiban taman yang kian ramai dikunjungi tersebut. Ken, rekan kerjamu, lupa bahwa cintanya pernah ditolak mentahmentah oleh Sophia tiga bulan lalu. Ken yang tiga bulan belakangan ini senantiasa murung, kembali ceria. Ia tak lagi ingat pernah menyatakan cintanya kepada Sophia, kendati ia sadar sepenuhnya bahwa ia selalu mencintai Sophia sejak kali pertama berjumpa. “Dia bilang, dia tidak mungkin mencintai laki-laki konyol sepertimu, Ken,” ujarmu memancing reaksinya.
Baca juga: Bangku Tua Milik Bapak – Cerpen Riyan Prasetio (Padang Ekspres, 11 November 2018)
“Kau pasti bercanda. Mana mungkin aku senekat itu mengatakan cinta kepadanya.”
Ken tampak tenang. Senyumnya pun ringan. Menurut Ken, semua yang kaukatakan itu mengada-ada. “Sophia tidak perlu tahu tentang perasaan ini, paling tidak sampai aku benar-benar yakin kalau Sophia juga memiliki perasaan yang sama,” tandasnya.
“Kau sudah ke taman itu?”
“Sudah, kemarin malam.”
“Bagaimana hasilnya?”
Baca juga: Anjing Pak Gendang – Cerpen Arsyad Salam (Padang Ekspres, 04 November 2018)
“Sepertinya memang ada yang aku lupakan,” Ken menoleh, “tapi, aku tak tahu itu apa.”
Engkau menatapnya lalu tersenyum. Ken tidak berbohong—keterpurukan dan rasa sakit yang ia peroleh tempo hari telah sirna. Di memori otaknya kini, penolakan oleh Sophia itu tidak pernah terjadi; ia tak pernah menyatakan cintanya kepada Sophia.
Antrean bergerak maju lalu berhenti lagi.
“Jika bukan demi Fred, rasa-rasanya saya enggan berdiri selama ini,” seorang perempuan paruh baya yang ada di kirimu mengeluh.