“Makannya kalau berangkat jangan mepet bel mulu biar nggak takut telat,” jawab Dina sembari tersenyum ke sahabatnya itu.
“Tapikan bisa memacu adrenalin Din hehehehe…” sahut Vina dengan santainya.
“Dasar kamunih ada-ada aja,” jawab Dina sembari tersenyum.
Dina dan Vina sudah berteman lama dari sejak SMP hingga sekarang. Dina menjadi sosok sahabat yang baik bagi Vina karena Dina sering memberi saran ataupun nasihat kepadanya. Begitu pula sebaliknya.
Waktu pun berlalu begitu cepat berlalu secepat kilat yang menyambar. Dina pun lulus sebagai lulusan terbaik di sekolahnya. Kedua orangtuanya sangat bangga terhadap Dina. Setelah hari kelulusannya, Dina memikirkan akan ke mana ia akan melanjutkan jenjang pendidikannnya. Dina memiliki cita-cita sebagai seorang dokter, tetapi ibunya mengharapkan Dina bekerja seperti ayahnya. Sedari kecil, Dina selalu mengikuti apa kemauan orangtuanya. Saat ia ingin bersekolah di salah satu SMA di Kota Bandung, kedua orangtuanya melarangnya sehingga Dina memilih mengalah terhadap orangtuanya. Namun, kali ini Dina memikirkan lagi kemauan orang tuanya karena ia sangat ingin menjadi dokter bukan menjadi PNS seperti keinginan kedua orangtuanya. Dina menyadari bahwa dia suduh cukup dewasa untuk memutuskan mengenai masa depannya. Orangtua Dina seringkali memaksa Dina meskipun ia tidak menyukainya. Orangtuanya menganggap keputusan mereka akan menjadi keputusan terbaik bagi kehidupan Dina.
“Dina lebih baik kamu menjadi seperti ayahmu saja. Kerjanya terjamin kehidupanmu akan terjamin, Nak,” tutur Ibu Dina.
“Tapi Bu, Dina ingin sekali menjadi dokter yang akan menyembuhkan dan menolong banyak orang. Itung-itung dapat pahalakan,” bujuk Dina.
“Iya nak, tapi biaya menjadi dokter itu mahal dan kuliahnya juga lama. Belum tentu kamu menjadi orang sukes setelah lulus dari jurusan kedoketeran,” ucap ibu Dina
“Dina akan berusaha, Bu. Dina sangat yakin dengan keputusanku kali ini,” jawab Dina.
“Zaman sekarang sudah banyak loh dokter yang pengangguran. Coba kau pikirkan lagi ya, Nak,” balas ibu Dina.
“Baiklah akan Dina pikirkan kembali,” jawab Dina dengan lesu.