Dina sangat bimbang mengenai masa depannya. Ia sangat ingin menjadi dokter namun orangtuanya tidak merestuinya untuk menjadi dokter. Ia pun meminta saran dari Vina sahabatnya. Mereka merencanakan akan bertemu di sebuah taman dekat rumah Vina.
Suara kicauan burung di taman menemani Dina yang sedang duduk termenung sembari menunggu kedatagan Vina. Setelah beberapa menit kemudian Vina pun datang. Dina kemudian membeberkan mengenai keluhkesahnya.
“Aku sangat bingung, Vin. Aku pengen banget jadi dokter tapi kedua orangtuaku tidak setuju,” curhat Dina.
“Ah elah gitu doang bingung. Coba diskusiin lagi deh sama kedua orang tua lo mungkin aja mereka mau mendengarkan,” tutur Vina sembari menenangkan Dina.
“Tadi aku sudah bilang ke Ibuku dan tetap menyuruhku untuk memikirkan kembali keputusanku,” jawab Dina.
“Coba kamu pake muka melas deh mungkin bakal luluh,” gurau Vina agar sahabatnya sedikit terhibur.
“Ihh aku lagi serius, Vin,” jawab Dina dengan tampang yang lesu.
“Hehehehe… bercanda biar kamu enggak tegang,” jawab Vina sembari tertawa
“Terus ini gimana?” tanya Dina dengan muka sedih.
“Coba deh kamu berdoa dan coba lagi omongin baik-baik sama orangtuamu,” jawab Vina sembari tersenyum.
“Hmmm oke deh, terimakasih ya, Vina… Kamu memang sahabatku yang paling baik,” ucap Dina sembari memeluk Vina.
“Iya sama-sama Dina,” jawab Vina.
Saat Dina tiba di rumah, ia pun menemui ayah dan ibunya untuk membicarakan kembali mengenai jurusan yang akan ia ambil. Dina membujuk kedua orang tuanya agar membolehkannya untuk menjadi dokter.
“Ayah… ibu…. Dina ingin sekali menjadi seorang Dokter. Dina sudah mempertimbangkan ini. Untuk masalah biaya Dina usahakan agar mendapat beasiswa dan membuka usaha kecil-kecilan untuk meringankan biaya kuliah kedokteranku,” bujuk dina kepada kedua orang tuanya.
“Ayah tidak setuju apabila kamu menjadi dokter. Bukan hanya masalah biaya tapi masalah lamanya kamu berkuliah juga. Kalau kamu jadi PNS nanti hidupmu sudah terjamin,” jawab ayah dengan nada tinggi.