“Assalamu alaikum.”
“Wa alaikum salam. Eh, Cinta sudah datang,” jawab istriku. “Bagaimana tadi aktivitas di rumah Allah-nya?”
Segelas air putih diberikannya padaku.
“Yah… gitu lah. Setiap hari teras dan area wudhunya kotor terus. Enggak tau kenapa. Setelah salat subuh banyak pasir, setelah zuhur banyak pasir, setelah ashar pasir lagi. Setiap hari begitu, ini setelah magrib pasti kotor lagi nih,” sungguh aku tak bisa lagi menyembunyikannya dari istriku. Semenjak tiga hari yang lain aku mulai aktif mengurus mushala, sebenarnya aku tidak mau membuatnya khawatir. Terleblh ini dapat mengurangi pahalaku.
“Alhamdulillah, Cinta…”
Dia menghiburku, kali ini sambil memijit pundakku yang saat ini benar-benar terasa pegal.
“Alhamdulillah hanya di bagian luar yang gitu, lantai bagian dalam tidak. Alhamdulillah hanya kotor, bukan atap mushala yang tiba-tiba ambruk. Hihihi… coba nanti Aa usulkan ke Pak Rayhan, untuk pengadaan tanda batas suci. Semoga dengan adanya tanda itu. Jamaah bisa lebih menjaga kebersihan mushala.”
“Ah, uang mushala gak banyak, Cinta. Pemasukannya hanya dari satu kotak infak di halaman mushala itu aja. Kayaknya untuk gaji Aa, bayar PDAM, dan bayar listrik aja belum tentu cukup.”
“Ya coba aja dulu minta, A.”
Senyum termanisnya diberikan sebagai penyemangat padaku.
***
“Baik Pak Ardian, insya Allah besok saya pesankan. Jadi perlunya sekilar lima stiker ya.”
Sungguh tak kusangka, ternyata Pak Rayhan bersedia memesankan stiker batas suci menggunakan uang pribadinya.
Keesokan harinya, Pak Rayhan menelponku, meminta datang ke mushala. Ya, aku marbot yang tidak tinggal di rumah marbot mushala, sebab mushalanya belum punya rumah khusus untuk marbot.
Sesampainya di halaman mushala, hanya dengan melihat benda tergulung di tangannya, aku sudah tahu apa maksud beliau memanggilku.
“Alhamdulillah, sudah selesai ya stikemya, Pak? Cepat amat.”
“Iya nih, alhamdulillah. Yuk saya bantu pasang, mau ditempel di mana aja?”
***