Batas Suci

Hujan turun lumayan deras siang ini. Karena kanopi mushala yang tidak terlalu panjang, membuat beberapa air hujan masuk ke area teras. Seorang bapak-bapak yang baru saja keluar dari mushala, mengambil sepatunya di rak. Kemudian dia meletakkannya di teras untuk kemudian dipasangya. Ya, dia melanggar batasnya. Baru saja mulutku terbuka hendak menegurnya, seorang anak sekolahan melakukan hal yang sama.

Aku mengurungkan niatku. Sepertinya sebab hujan inilah mereka enggan memasang sepatu di luar area batas suci, sebab mereka tidak bisa duduk di teras seperti biasanya. Mau tidak mau, aku harus mengepel becek itu lagi, meskipun sebelum salat ashar tadi aku juga sudah mengepelnya. Hampir semua jamaah sore ini melakukan hal yang sama. Semoga Pak Ardian bisa memperbesar ukuran kanopinya, sehingga ini tidak berkelanjutan.

***

Lagi. Sepagian ini hujan membasahi kampung kami. Meskipun tidak begitu deras, teras mushala kami cukup basah dibuatnya. Permohonanku ke Pak Ardian ditolak, meskipun beliau menjawabnya dengan kalimat, “Segera kita perbaiki,” aku sudah tahu betul bahwa itu artinya tidak bisa.

Saat adzan zuhur, hujannya benar-benar reda. Sepertinya siang ini akan ada aktivitas mengepel cek-becek lagi.

“Ah, biar sajalah setelah zuhur mengepelnya. Toh kalau kupel sekarang, nanti bakal kotor lagi.”

Salat zuhur usai, rasanya tak tahan melihat tragedi yang akan terjadi beberapa detik yang akan datang. Seorang berpakaian putih abu-abu keluar. Oke, sepertinya dia tersangka pertama yang akan melakukan itu.

TIDAK! Sungguh mengejutkan, dia mengambil sepatunya di rak, kemudian ditaruhnya di luar area batas suci. Kakinya basah menginjak teras yang belum kering, ketika dia mengenakan kaos kakinya, sudah pasti kaos kakinya akan ikutan basah. Dia beranjak…

“Dek, dek…!” Panggilku, dan aku setengah tidak sadar memanggilnya. Sudah terlanjur.

“Ya?” jawabnya.

“Tadi saya liat kamu tidak sungkan untuk menginjakkan kakimu di lantai yang basah itu. Padahal kan itu akan membuat kaos kakimu basah, kotor, dan bau. Tuh, liat saja jamaah yang lain, mending kan gitu.”

Arsip Cerpen di Indonesia