Purnama di Pantai Boom

Sakila berdiam. Ia termangu memandangi purnama yang semakin sempurna. Wanita berstatus janda muda ini memeras memorinya pada pengalaman pahit dalam hidupnya. Aku menatap wajah ayunya yang bersembunyi di balik indah rambutnya. Perlahan aku menyibak rambut itu untuk sekadar menatap wajahnya yang sayu. Tiba-tiba aku melihat linangan air mata mengucur dari mata sembabnya. Kilauan air mata tersebut menetes kemudian lenyap dalam gunungan pasir yang ia himpun.

“Kau menangis Sakila?” tanyaku.

“Ti, tidak. Saya tidak menangis,” jawabnya sambil menyeka air mata.

Aku tidak mau menyudutkan Sakila dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Aku membiarkan Sakila menumpahkan air matanya bercampur butiran pasir di pangkuannya. Sosok wanita yang telah menjanda empat tahun ini kubiarkan melampiaskan kepedihan jiwanya karena pengalaman getir hidupnya.

Lentik pucuk cemara bergoyang rapi. Hembusan angin malam mengajaknya menghibur Sakila dengan lighting rembulan kala purnama. Akan tetapi, janda kembang di kampung halamannya ini tetap murung. Dia benar-benar tenggelam dalam genangan pengalaman pahitnya. Pengalaman saat merajut keluarga bersama Sudarta.

“Bagaimana aku bisa lepas dari belenggunya?” tanya Sakila padaku.

“Belenggu Sudarta?”

“Bukan. Aku sudah lepas darinya. Meskipun luka jiwaku karenanya masih menganga.”

“Lantas?”

“Belenggu Marwan. Dia mantan pacarku yang kini telah beranak pinak dengan gadis pilihan orang tuanya.”

“Marwan tetanggamu itu?”

“Benar. Setelah perceraianku dengan Sudarta dia selalu datang mengusikku. Dia bermaksud kembali padaku.”

“Sikapmu bagaimana? Apakah kau terima?”

Arsip Cerpen di Indonesia