Purnama di Pantai Boom

“Selain itu Marwan juga mengancamku. Dia pernah berkata jika aku menikah dengan orang lain, maka dia akan merusak keluargaku.”

“Kenapa dia seperti itu? Dia itu bukan apa-apamu. Dia adalah suami orang lain. Marwan tidak boleh mencampuri kehidupanmu.”

“Aku sudah menyampaikan hal seperti itu berkali-kali padanya. Namun, dia tetap keras kepala. Bahkan, aku pernah menyampaikan tuntutan kepadanya. Jika dia memagariku seperti itu, maka dia harus menanggung seluruh kebutuhan hidupku.”

“Kau berkata kepada dia seperti itu? Inilah yang menyebabkan kau tidak bisa lepas dari belenggunya. Ucapanmu itu telah memberi kesempatan pada Marwan untu mengusik kehidupanmu.”

“Lantas bagaimana aku menolaknya?”

“Segera menjauh darinya. Jangan lagi kau melayani telepon atau sms-nya. Bila perlu buang jauh-jauh hal yang berhubungan dengan Marwan.”

Sakila perlahan mengangkat kepalanya yang sejak tadi dibenamkan di dadaku. Dia memandangku dengan tatapan sayu. Mata Sakila menunjukkan jutaan bayang kegelisahan. Dia benar-benar galau tingkat tinggi.

“Apakah ada solusi selain itu?” tanya Sakila dengan tatapan tajam kepadaku.

“Tidak ada. Jika kau ingin lepas dari belenggu Marwan, saranku harus kau laksanakan.”(*)

 

Ahmad Zaini, lahir di Lamongan, 7 Mei 1976. Cerpen maupun puisinya pernah dimuat oleh beberapa media massa. Salah satu cerpennya yang berjudul “Bayang-Bayang Pernikahan Nggotong Omah” meraih juara harapan I pada Sayembara Penulisan Prosa (cerpen) dalam rangka Festival Panji Nusantara 2018. Novel perdananya berjudul “Mahar Cinta Berair Mata” (Pustaka Ilalang, 2017). Saat ini berdomisili di Wanar, Pucuk, Lamongan, Jawa Timur.

Arsip Cerpen di Indonesia