“Aku menolak keinginannya. Aku tahu bahwa dia adalah suami orang lain. Dia sudah menjadi ayah dari anak-anaknya.”
“Kenapa dia membelenggumu? Apakah dia memaksakan kehendaknya?”
Sakila diam. Dia tidak menjawab pertanyaan terakhirku. Lagi-lagi air mata bening meluncur dari kantong matanya. Air mata kegalauan dalam menentukan nasib hidupnya yang tak menentu.
“Sakila, kamu menangis?”
Saat aku bertanya seperti itu, tiba-tiba dia menyandarkan kepalanya ke pundakku. Aku tak bergerak serta membiarkan Sakila seperti itu.
“Aku ingin lepas dari Marwan. Aku ingin bebas menentukan jalan hidupku sendiri. Aku tak mau merusak rumah tangga orang lain,” gumamnya.
“Aku percaya padamu Sakila. Wanita sepertimu tak ada guratan sedikit pun sebagai wanita perusak rumah tangga orang lain.”
“Terima kasih atas kepercayaanmu. Aku hanya minta pendapat darimu bagaimana caraku untuk bisa lepas dari belenggu Marwan?” tanya Sakila dengan nada manja.
“Kamu harus segera mengakhiri status jandamu. Kamu harus menikah,” kataku.
Sakila menghela napas panjang. Dia sepertinya kurang tertarik dengan pendapatku. Sakila mendesis sambil membenamkan kepalanya di dadaku.
“Aku takut, Mas. Peristiwa yang kualami dengan Sudarta belum mengelupas dari ingatanku. Luka batinku masih menganga. Aku tidak bisa melupakan badai rumah tangga yang menghantamku kala itu. Kebengisan Sudarta masih membekas dalam jiwa dan ragaku.”
“Jangan kau terjerat dengan pengalaman masa lalu. Kau harus mengubur dalam-dalam peristiwa kelam bersama Sudarta. Tidak semua laki-laki mempunyai tabiat seperti Sudarta,” kataku meyakinkan Sakila.