Seketika kau tertegun, seolah ibumu baru saja menyemprotkan racun yang paling berbisa ke dalam tubuhmu. Kau mengejang, tapi menolak sekarat. Di dalam otakmu yang mulai bertumbuh, kau melakukan perlawanan demi perlawanan atas sugesti tak masuk akal yang dijejalkan ibumu. Kau melawan sugesti itu secara diam-diam, bergerak pelan dan sangat rahasia. Kau tahu, ibumu tak suka dibantah dan dia benci dengan pengkhianat yang menusuknya dari belakang.
Hingga hari Chuseok itu tiba. Malamnya, kau bersama ibu dan eonni-mu sibuk membuat kue songpyeon di teras belakang. Bulan bulat sempurna, seperti wajah seorang putri yang membengkak karena terlalu banyak makan. Eonni-mu terlihat begitu telaten membuat kue songpyeon, dia begitu hati-hati saat membentuk dan memasukan wijen atau kacang ke dalamnya. Kau ingin tergelak, kau yakin sekali, kakak perempuanmu itu sudah terhasut cerita tak masuk akal ibumu. Untuk mendeklarasikan perlawanan dan menegaskan bila kau berada di kubu oposisi, kau sengaja membuat kue songpyeon yang bentuknya sangat asal-asalan. Kau tahu ibumu mendelik, tapi kau tak peduli.
Namun, karma leluhur itu datang lebih cepat dari yang kau duga.
Pagi harinya, saat kau tak begitu bersemangat mengikuti langkah ibu, ayah dan eonni-mu melakukan ziarah leluhur. Kau nyaris terjatuh lantaran tersandung anak tangga rumah abu. Bukan tanpa sebab, matamu terbetot oleh wajah seorang anak laki-laki asing. Kau belum pernah melihatnya. Tak ada anak laki-laki setampan dan semanis itu di sekolahmu. Darahmu berdesis, ular di tubuhmu menggelinjang. Tapi kau hampir meledak serupa Nagini karena murka begitu melihat oppa itu justru mendekati kakak perempuanmu. Mereka berbincang. Sesekali tertawa. Eonni melirikmu penuh arti. Seolah-olah dia tengah berkata, “Kue songpyeon yang bagus menentukan jodohmu.”
Dan kau berlari pulang sembari menangis, saat seorang anak laki-laki ompong, pipi sebulat bakpao tiba-tiba menghampiri dan menawarimu sebatang cokelat. Kau ingat kue songpyeon-mu. Kau ingat ucapan ibumu. Sejak hari itu, kau bersumpah, kau akan melakukan apa pun secara sempurna. Kau akan menjadi sempurna, apa pun caranya, bagaimana pun jalannya. Tak ada kata selain sempurna, yang kau tanam dan semai dalam ladang bernama kepalamu.
***