Di rumah, kau terus menerus memandang formulir anggota klub drama itu. Sehingga tidak menyadari, ibumu telah berdiri di belakangmu.
“Kenapa tak kau isi?” tanyanya, membuatku terlonjak.
“Aku masih menimbang, apa aku berbakat di sini atau tidak?”
“Kau berbakat. Ibu rasa kau bisa menjadi pemeran utamanya.”
“Aku hanya berperan sebagai Arang ketika dia menjadi arwah. Bukan saat dia masih jelita.”
Baca juga: Petang di Taman – Cerpen Iin Farliani (Padang Ekspres, 14 Oktober 2018)
“Kenapa bisa begitu?”
Kau menggedikkan bahu, sebagai tanda tidak tahu.
“Oh, sangat disayangkan bila harus ada dua orang yang memerankan satu karakter. Seharusnya cukup satu saja.” Kau mengangguk setuju.
“Tapi tak apa. Kau tetap saja berlatih sebagai Arang. Mungkin saja guru klub dramamu akan berubah pikiran setelah melihat aktingmu.”
Kau tahu, ibumu hanya menghiburmu, tapi bukankah untuk menjadi sempurna kita butuh totalitas? Tanyamu. Pada diri sendiri. Sejak hari itu, kau berlatih dengan sungguh-sungguh. Bagimu apa yang ibumu katakan adalah nasihat terbaik yang harus kau jalankan. Kau terus berlatih. Jauh lebih keras dari siapa pun di klub dramamu. Termasuk si jelita yang ditunjuk sebagai Arang semasa hidup. Kau sedih, tapi kau tahu, kau hanya bisa berusaha.
Baca juga: Tiomina – Cerpen Jeli Manalu (Padang Ekspres, 07 Oktober 2018)
Seminggu sebelum pertunjukkan, kau semakin tiba gundah. Tak ada peluang untuk menjadi Arang, kau hanya berperan sebagai hantu, yang dialognya pun hanya ada ketika Hakim Yi berniat mengusut misteri kematian hakim demi hakim di kotanya dan rumor hantu cantik yang meneror di rumah dinas hakim.
“Kenapa kau menangis?” ibumu bertanya, saat dia memergokimu menangis diam- diam di halaman belakang. “Tangisan tidak akan mengubah apa pun. Air mata tak akan membuatmu menjadi pemeran utama dalam drama itu.”
Kau mengusap ingus. “Lalu aku harus apa?”
“Mungkin bila pemeran utama itu sakit, kau bisa menggantikannya,” saran ibumu. Kau terngangah. “Ya,” dia menggedikkan bahu. “Kau banyak-banyak berdoa agar dia jatuh sakit.”