Sempurna

KAU sadar betul, kau tidak cantik dan sialnya, tidak juga sangat pintar. Kau terlalu biasa, tidak ada yang menonjol dari dirimu. Orang-orang sepertimu, menurut ibumu, akan cepat dilupakan dan dilibas oleh waktu serta berita atau peristiwa. Dan pada akhirnya, orang-orang sepertimu tidak memiliki ruang dalam kotak bernama kenangan bagi siapa pun. Kau ada, tapi seperti tak ada. Ada atau tidak dirimu, tidak berpengaruh pada dunia. Dan kau sedih bila mengingat itu. Makanya, kau harus sempurna, seperti purnama.

Kau menyukai drama. Impian terbesar dalam hidupmu adalah menjadi aktris atau menjadi seorang miss dalam kontes kecantikan. Kau ingin semua mata tertuju padamu. Tapi seperti yang kau ketahui, kau tidak memiliki faktor pendukung apa pun untuk mewujudkan impianmu.

Baca juga: Bangku Tua Milik Bapak – Cerpen Riyan Prasetio (Padang Ekspres, 11 November 2018)

“Tapi di dalam drama, aktris tak selalu harus cantik,” ujar eonni-mu.

“Benarkah?” matamu yang seperti biji almond itu membulat. Kakak perempuanmu mengangguk. Senyummu merekah.

“Kau tengah meledekku, kan?”

“Apa aku terlihat tengah menipumu?”

“Kau kan licik serupa ular,” ucapmu. Eonni-mu mendesis.

“Sesekali drama butuh imo yang jelek dan gendut untuk menjadi antagonis bagi pemeran utamanya.”

Baca juga: Anjing Pak Gendang – Cerpen Arsyad Salam (Padang Ekspres, 04 November 2018)

Kau menghentakkan kaki, meninggalkan eonni-mu, sekaligus bersumpah dalam hati, bila kau akan mendapatkan peran utama itu kelak.

Jadilah, ketika di sekolah menengah pertama, kau mengetahui bahwa ada klub drama, kau mendaftar untuk jadi anggota. Guru pembimbingnya seorang perempuan angkuh dengan gincu merah menyala dan mata yang tajam serupa belati. Dia menatapmu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Menimbang-nimbang kelayakanmu untuk mengikuti klub dramanya.

“Kebetulan,” ucapnya, “Musim gugur nanti, kita akan mementaskan dongeng Arang. Aku belum menemukan pemeran hantunya. Kurasa kau sangat tepat untuk itu.”

Kau mengepal tanganmu, tapi tetap tersenyum dan mengangguk. Kau mengambil formulir dan bergegas pergi. Bila tak ingat impianmu untuk menjadi aktris yang sempurna, tentu saja kau telah menyarangkan tinjumu ke mulut tajam guru drama tadi.

Arsip Cerpen di Indonesia