Mata Sinta menjalang ke luar jendela, ke sebuah arah pekuburan yang dipenuhi barisan pohon kamboja. Pikirannya jatuh pada sebujur batu nisan hijau dengan sepasang kijing bersungkup kain biru yang selalu mengapit taburan aneka kembang, tepat di samping batu umpak yang ditempati tempayan tanah berisi air. Di sanalah kini Nyai Hawiya bersemayam. Merangkul semua catatan kesindenannya dengan diam dan pejam yang purna.
“Sinta! Jika Ibu sudah tiada, jadilah kamu sinden penggantiku. Menarilah untuk tanah Madura!” pesannya kepada Sinta. Di sela getar gigil bibir tuanya yang meruapkan bau dahak kering, saat tubuh moleknya sudah dikalahkan oleh belukar tulang yang mendengkul keriput kulitnya, saat wajahnya layu, mirip selembar daun kering di bawah kuku matahari, ketika Nyai Hawiya sudah terbaring sakit dan Sinta hanya menangis di sampingnya.
“Ibu akan damai di alam kubur jika melihat kamu menari!” lanjutnya diringi senyuman, menampakkan satu-satunya gigi berwama hitam, yang bertahun-tahun diluber sedah.
“Terimalah penjhung ini,” tiba-tiba tangan ringkih Nyai Hawiya bergerak mengambil selembar lipatan kain dari bawah bantal, lalu menyampirkannya ke bahu Sinta, bersamaan ketika napas terakhirnya berembus dan seluruh tubuhnya beku. Dan para tetangga berdatangan dengan ucap sungkawa seraya menderaikan air mata.
Mengingat peristiwa itu, ingin rasanya Sinta benar-benar meneruskan pesan ibu angkatnya untuk menjadi sinden. Ia melepas napas panjang dan sedikit mengangkat wajahnya lurus ke jendela. Ada riak keyakinan dalam hatinya bahwa sinden akan membuat orang-orang bahagia.
Ada angin melipat ujung gorden, juga sisipan kicau sekawanan burung. Di saat ada keinginan untuk jadi sinden, seketika ia teringat nasihat kiai di pondoknya.
“Sinden itu haram, tidak baik bagimu jadi sinden!” suara Kiai Hasan seperti masih kemarin pagi merambati lubang telinganya. Sinta ingat kala itu semua santriwati tertunduk, dan hari-hari setelah itu para santriwati mulai memperbincangkan soal sinden. Beberapa di antara mereka sambil melirik ke arah Sinta. Sinta mendengar kata-kata sampah ruah dari bibir teman-temannya itu.