Sinta sungguh sangat menikmati kebahagiaan saat tenggelam dalam tarian sunyinya di dekat makam ibunya. Saking seringnya menari, ia begitu mahir dan mulai berpikir untuk jadi sinden betulan seperti mendiang ibu angkatnya itu.
Sebelum keinginan untuk jadi sinden itu tunai, suatu Kamis sore, ketika ia sedang tenggelam dalam tariannya di makam ibunya, di alam yang entah, ia melihat Kiai Hasan datang membuka tali yang mengikat tubuh ibunya pada sebuah pohon besar. Setelah terlepas, ibunya berterima kasih kepada Kiai Hasan sambil menampakkan raut bahagia, senyumnya bergayut di sepasang bibirnya yang lama membatu karena diantuk pedih. Lalu ia mengikuti langkah Kiai Hasan ke arah bukit yang penuh cahaya.
Setelah sadar dari khusyuk tariannya, Sinta terkejut. Tatapannya sedikit ia alih-tundukkan ke sepasang kakinya yang dijilat warna senja, tak kuat matanya menyimpan rasa malu kepada Kiai Hasan yang—ternyata—sedang berada di depannya.
“Pulanglah, Sin! Tak baik menari di kuburan, apalagi menjelang malam Jumat seperti sekarang,” ujar Kiai Hasan kepada Sinta yang tertunduk takzim sembari mengikat penjhung pemberian ibunya ke pinggangnya. ***
Catatan:
Penjhung: selendang (Madura) yang digunakan seorang sinden untuk menari. Biasanya seorang sinden akan mengalungkan selendang itu di leher lelaki yang hendak ia ajak menari.
A. Warits Rovi lahir di Sumenep, Madura, 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media nasional dan lokal. Ia juga guru Bahasa Indonesia di MTs AI-Huda II Gapura. Berdomisili di Sumenep, Madura.