Sinden Sunyi

“Dia anak sinden, iblis dia!”

“Calon penghuni neraka!”

“Jangan dekati!”

“Najis!”

Sinta mengelus dada dan sekuat mungkin menahan air mata mendengar ocehan dari teman-temannya kala itu.

Teman-teman Sinta tidak ada yang tahu bahwa Sinta sebenarnya hanya anak angkat Nyai Hawiya. Sebagai sinden, Nyai Hawiya tak punya suami dan anak. Ia mengadopsi Sinta untuk mengisi hari-harinya, dan tentu suatu saat kelak Sinta diharapkan bisa merawat dirinya ketika tua. Meskipun pada akhimya, sebelum benar-benar tua, ajal sudah lebih dulu datang, merampas Nyai Hawiya dari tangan Sinta.

Kini Sinta dibadai kebimbangan. Sebagai santri, ia tahu bahwa menjadi sinden itu dilarang oleh agama, sementara ia sendiri punya keinginan untuk menaati nasihat ibu angkatnya yang diucapkan sebelum meninggal.

***

UNTUK keempat kalinya, Sinta membiarkan tubuhnya bergerak-gerak sendiri di depan sebuah cermin besar di dalam kamarnya; jemarinya berpencar tiru mawar rekah dengan jari kanan menjimpit ujung penjhung yang tersampir ke lehemya, bahunya maju mundur di sela liuk lengannya yang berayom dan bergelombang. Dadanya setengah membusung dan digetarkan sedikit mengimbangi gerakan pinggul. Kakuwa bergerak indah, sesekali mengentak saat lehemya berlenggok.

Sinta tersenyum melihat bayangannya yang menari-nari di datar cermin. Ia tak mengerti dari mana kekuatan yang menyusup ke dalam tubuhnya sehingga tiba-tiba ia lihai menari. Ia menduga, mungkin arwah ibu angkatnya yang menyatu ke dalam tubuhnya. Jika seperti itu, Sinta beranggapan sudah pasti ibunya bahagia melihat dirinya bisa menari. Tapi untuk awal-awal, ia beniat untuk menyembunyikan bakat barunya itu kepada orang-orang. Ia hanya ingin menari sendirian tanpa ada lelaki yang memandang apalagi menyentuh tubuhnya. Dengan begitu, tunailah dua keinginan Sinta: menuruti nasihat ibunya dan menaati nasihat kiai.

Setelah hampir tiga bulan menari sendirian di kamarnya, kini ia mulai menari di dekat makam ibu angkatnya. Setiap Kamis sore, seusai mengaji di makam ibunya, ia tak lupa membuka lipatan kain penjhung dan dikalungkan ke lehernya. Tak ada siapa pun di sekitarnya karena Kamis sore para peziarah belum ada yang datang.

Arsip Cerpen di Indonesia