Yu Nalea

Ketika warung sedang ramai-ramainya, orang-orang membicarakan banyak hal, tukang ojek mengobrol tentang semakin tergusurnya mereka oleh ojek online, para kuli berbincang tentang taruhan-taruhan skor sepak bola. Adapun mahasiswa seperti kami, biasanya berbincang tentang tugas-tugas yang tak selesai?

Yu Nalea hanya sesekali menanggapi pembicaraan kami, sebab ia selalu sibuk mengambil piring, menuang kuah sayur, menggoreng ikan, atau membuat minuman seperti teh atau kopi.

Di sela-sela menuang kopi, Yu Nalea kadang bersin, hatsyi!

Baca juga: Argo Senja – Cerpen Sungging Raga (Kedaulatan Rakyat, 16 September 2018)

Segera orang-orang berebut ingin mendapatkan kopi tersebut. “Buat diambil berkahnya.”

“Oo, dasar gemblung.”

Lha memang kami semua ini tiba-tiba menjadi gemblung di hadapan Yu Nalea, tidak ada lagi kecerdasan dan strata sosial. Bahkan Paimo yang pernah menang olimpiade matematika, mendadak ciut di hadapan Yu Nalea, kecerdasannya menjadi tidak berguna. Kesederhanaan Yu Nalea justru tak bisa dipecahkan dengan rumus trigonometri atau persamaan diferensial elementer, Paimo seperti bocah lugu. Kami sampai khawatir dia jatuh cinta kepada Yu Nalea. Maklumlah, Paimo terlalu sibuk dengan rumus-rumus, jadi jarang memandang perempuan.

Baca juga: Si Pengarang Muda – Cerpen Sungging Raga (Kompas, 08 Juli 2018)

Yu Nalea, wajahnya tidaklah terlalu manis. Ia jelas kalah kalau dibandingkan dengan Ayu Tingting atau Zaskia Gotik. Kecantikannya pas-pasan, suaranya juga tidak serak-serak sehingga mengundang khayalan erotis seperti tokoh perempuan dalam cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”. Hanya saja, barangkali Yu Nalea punya inner beauty, kecantikan dari dalam, dan kami semua tenggelam di dalamnya, berenang-renang dalam kolam imajiner yang tak terpecahkan oleh rumus-rumus aritmatik atau ideologi-ideologi revolusioner.

Keberadaan warung Yu Nalea seperti menjadi bagian penting dari masa-masa kami menjadi mahasiswa, yang menganggap Kota Yogyakarta bisa memberikan setumpuk masa depan. Padahal tentu ada pula yang gagal, yang kandas, yang tidak mampu bertahan, sehingga hidupnya lebih terbengkalai, ingin kembali ke kampung tapi selalu urung, karena “Pulang Malu, Tak Pulang Rindu.”

Arsip Cerpen di Indonesia