Yu Nalea

Bagi Yu Nalea, semua pembeli ibarat keluarganya. Kadang ia izinkan beberapa orang untuk berutang, terutama tukang ojek yang takut pulang cepat karena istrinya pasti menyambut dengan sederet maklumat. Yu Nalea juga memaklumi sikap kami para mahasiswa, seperti Salem yang kalau akhir bulan, mengambil gorengan lima mengakunya tiga, tetapi selalu dibalik ketika awal bulan baru dapat kiriman uang dari kampung, ia mengambil tiga mengakunya lima.

Atau Itmam, lelaki perantauan yang kalau makan, lauk tempenya dimasukkan ke saku, dibawa pulang untuk makan malam. Dan masih banyak lagi. Yu Nalea selalu menghibur kami semua, seolah-olah, di warung itu kita bisa menumpahkan segala keluh-kesah, selain tentunya menumpahkan uang untuk membeli nasi dan lauk-pauk.

Baca juga: Arsitektur Kesunyian – Cerpen Sungging Raga (Tribun Jabar, 29 Januari 2017)

Namun, sekian tahun berselang, kini semua telah menjadi kenangan…

Tentu saja, segala hal tidak akan diceritakan sebelum ia menjadi kenangan. Tahun demi tahun beranjak baka, Yu Nalea telah menghilang entah ke mana, warungnya juga sudah tak ada bekasnya.

Mahasiswa yang dahulu menjadi pelanggan Yu Nalea mungkin kini sudah sukses. Ada yang lulus lalu jadi pegawai negeri. Ada yang lulus lalu berbakti sebagai pengangguran kelas internasional. Ada yang tak sempat lulus dan memilih naik kereta yang tak pernah kembali.

Adapun aku, datang ke kota ini dengan pesawat paling pagi, untuk menghadiri seminar nasional statistika yang diadakan oleh sebuah universitas terbesar di negeri ini.

Baca juga: Kedai Senja – Cerpen Sungging Raga (Kedaulatan Rakyat, 24 September 2017)

Dengan segala fasilitas penjemputan, akomodasi, termasuk santapan. Aku tergolong cukup sukses setelah lulus, setidaknya aku tidak perlu menjadi penulis cerita pendek untuk mengais-ngais honorarium yang tak seberapa.

Di perjalanan, aku minta sopir untuk melewati warung tempat Yu Nalea berjualan dahulu. Aku yakin, setiap orang yang punya kenangan dengan Yu Nalea, pastilah menyempatkan untuk menoleh ke sudut jalan itu. Namun, semuanya tampak kumuh karena beberapa warga menumpuk sampah.

Arsip Cerpen di Indonesia