Hanya tersisa tiang listrik dengan tempelan iklan badut ulang tahun, sedot WC, sisa poster pilkada, juga tembok kusam dengan coretan-coretan jorok, seakan hanya menjadi penanda diorama yang telah begitu jauh. Nyaris tak ada sisa jejak sedikit pun bahwa dahulu pernah ada sosok Yu Nalea meracik segala kenangan kami di situ.
Mahasiswa hari ini pasti tak mengenal Yu Nalea. Mahasiswa hari ini lebih suka membeli makanan secara online. Tetapi bagi kami, tempat kumuh yang kini seakan tak pernah dianggap itu, tetaplah menjadi titik rawan kenangan. Kenangan yang selalu meminta untuk kembali, meskipun ia sering kali melukai…
Baca juga: Cirahayu – Cerpen Sungging Raga (Media Indonesia, 12 Maret 2017)
“Memangnya ada apa di sini, Pak?” tanya sopir yang mengantarku. Aku pun kembali dari sebuah lamunan panjang.
“Oh, bukan apa-apa. Ya sudah, jalan lagi.”
Mobil berbelok kiri, ke arah jalan raya Kaliurang yang kian padat, kian butuh pertaruhan nyawa untuk sekadar menyeberang. Tetapi aku masih sesekali melirik ke kaca spion, seakan-akan mengharapkan keajaiban akan melihat sesuatu yang tak terbayangkan.
Yu Nalea… Ia memang tidak meminta kami mengingatnya, tapi kami mengingatnya.
Sesekali mengingatnya. ***