Menjadi kuli angkut sebenarnya bukanlah cita-citaku. Aku yakin, sesusah-susahnya orang juga tidak akan bercita-cita menjadi pekerja berat begitu. Hanya saja, aku menyadari aku bukanlah orang penting di kota ini. Aku juga bukan orang yang memiliki kelebihan yang membuat leluasa memilih kehidupan yang kuinginkan. Satu-satunya kelebihan yang kumiliki hanyalah badan kekar dan kukira menjadi kuli angkut adalah satu-satunya pilihan.
Entahlah, kesusahan seolah menjadi sahabat bagi orang-orang kecil sepertiku. Padahal hidupku sudah demikian terpuruk. Sejak kecil aku sudah tidak memiliki orang tua. Aku juga tidak tahu aku lahir dari rahim siapa. Kata nenek, saat masih bayi, aku ditemukan di dalam sebuah kardus mie di antara tumpukan sampah yang dikerubungi lalat. Oleh nenek aku kemudian dirawat hingga tumbuh besar dan bisa bekerja berat seperti saat ini.
Sebelum bekerja sebagai kuli angkut, selama bertahun-tahun, aku hanya membantu nenek membuka lapak gorengan di tepi jalan persimpangan tak jauh dari rumah. Dari sana aku dan nenek bisa menabung hidup. Hidup kami sempat bahagia dan sejahtera. Tapi keadaan tiba-tiba berubah begitu nenek jatuh sakit. Uang simpanan nenek berangsur habis dan lapak gorengan terpaksa ditutup.
Aku pun memutuskan menjadi kuli angkut. Pagi-pagi sekali aku pergi ke pasar. Setiap kali ada barang-barang berat turun dari truk, pikap, atau becak, aku selalu mendekat dan menawarkan diri pada pemiliknya untuk mengantarnya ke tempat tujuan di dalam pasar. Aku selalu tersenyum puas begitu menerima upah, lalu kubayangkan wajah nenek yang pucat.
“Kamu akan segera sembuh, Nek.” Begitu selalu aku bergumam sambil mengipas-ngipaskan uang sebelum akhirnya kumasukkan dalam kantong.
Selama tiga pekan aku sempat merasakan manisnya menjadi kuli angkut. Banyaknya orang yang memakai jasaku membuatku memiliki cukup banyak uang. Dan aku senang karena bisa mencicipi makanan enak, membeli baju yang lebih bermerek, pergi ke tempat wisata, juga menabung untuk biaya pengobatan nenek. Namun, kemunculan gadis berpayung ungu itu tiba-tiba membuat segalanya berubah. Kerjaku jadi tidak becus dan aku merasa seolah tidak bisa menahan diri untuk tidak mengejarnya.