Gadis Berpayung Ungu

Kulihat orang-orang yang mengejarku masih jauh. Aku segera menyelinap ke gang sempit itu. Tapi sial lagi, aku menabrak seorang gadis berpayung. Kami sama-sama terjatuh, aku segera berdiri dan mencoba menolong gadis itu. Tapi aku kembali terperanjat begitu gadis itu mengangkat wajah. Wajah gadis itu mirip dengan wajah dalam foto di rumah tua itu. Kembali aku lari terbirit-birit.

Gadis berpayung ungu itu memanggilku. Meneriakkan sesuatu sambil melambaikan tangannya yang memegang sesuatu. Tapi aku sudah tak perduli. Aku tetap berlari. Dalam diriku ada dua ketakutan yang bersekutu. Ketakutan terhadap orang-orang yang mengejarku sekaligus ketakutan pada gadis berpayung ungu itu. Namun, di ujung gang, aku kembali terperanjat. Saat tanganku merogoh saku celana, dompet tebal berisi kumpulan uang untuk biaya pengobatan nenek raib.

 

Kota ukir, 23, Mei, 2018

Arsip Cerpen di Indonesia